***SELAMAT DATANG DI WEBSITE QUHAS SCHOOL YPT DAR AL-MASALEH JAMBI***
Articles by "Kisah"


Namanya Ahmad Fauzan, tapi teman-temannya biasa memanggilnya Auz. Ia adalah anak yang berkacamata, berkulit putih, dan memiliki tubuh sedikit gemuk serta memiliki senyum yang manis. Dulu, Auz dikenal sebagai anak yang sering tantrum saat belajar di kelas, terutama ketika jam pelajaran Al-Qur'an dan Hadis dimulai. Kadang ia sulit tenang, mudah marah, bahkan sesekali memilih diam sambil menundukkan kepala.

Sebagai guru Al-Qur'an dan Hadis, aku sadar mengajar di jam siang bukan perkara mudah. Udara gerah, suasana panas, ditambah rasa kantuk yang menyerang siapa saja. Bukan hanya murid, aku pun sering menahan kantuk di depan kelas.

Hari ini kami belajar Surah Al-Ma'un. Anak-anak mulai menulis materi di buku masing-masing. Suasana kelas perlahan tenang. Entah karena lelah atau terlalu nyaman dengan kipas angin kecil yang mengarah ke tubuhku, tanpa terasa mataku sempat terpejam beberapa detik.

“Izin keluar sebentar  ya...,” kataku sambil tersenyum kecil kepada anak-anak. Dan merekapun menjawab "iya ust".

Setelah kembali ke kelas, aku melihat sesuatu yang membuat langkahku terhenti. Auz yang biasanya sulit fokus, justru sedang membaca Al-Qur'an. Yakni surah Al-Maun dan surah An -Naba' dengan suara pelan.

Aku mendekatinya dan mengecek tugasnya dan ternyata sudah selesai. Lalu aku berkata, “MasyaAllah, bagus sekali Fauzan.”

Tak disangka, pujian sederhana itu seperti menyalakan semangat teman-temannya. Satu per satu anak-anak lain ikut membuka Al-Qur'an dan mulai membaca bersama. Suara lantunan ayat memenuhi ruang kelas yang tadi terasa gerah dan sempat membuatku terlelap sebentar,

Saat itu hati kecilku terasa hangat. Bahagia bercampur haru.

Dalam hati aku bertanya,

“Apakah aku sudah sukses menjadi guru??"

Batinku berkata. "Astagfirullahalazim, seketika lisanku berucap dan aku sadar semua ini terjadi atas kehendak Allah SWT."

Tak terasa, bel pertanda pulang berbunyi. Anak-anak bergegas mempersiapkan diri untuk pulang memasukkan semua alat tulis mereka ke dalam tas, peci, botol minum dan lain sebagainya.

Dan setelah pembelajaran ditutup dengan doa dan salam dariku, aku kembali menatap mereka sembari mengucapkan "terimakasih untuk hari ini".

By Heriyanto, S.Ag., Gr

Keluar dari Zona Nyaman
By nopi paradila suardi

"Introvert" mendengar kata itu pasti sudah terngiang sosok yang dingin, pendiam dan murung. Panggil saja dia Lala, Gadis yang yang merantau dari kampungnya untuk pergi ke kota mencari ilmu. Sebenarnya dia tidak ingin kuliah, namun orang tua nya menaruh harap padanya, hingga ia lolos dengan nilai raport SMA tanpa harus mengikuti tes masuk kuliah lagi. dia menerima semua takdir yang sedang berjalan dihadapannya seperti air yang mengalir.

    Selama menjadi anak kuliahan, Lala tidak pernah ikut nongkrong, bahkan tidak punya teman dekat, dia hanya menjadi mahasiswi kupu-kupu (kuliah pulang), dia di rantau tinggal bersama abangnya. Setiap hari minggu lala selalu belanja ke pasar subuh-subuh, lalu masak setelahnya, membereskan rumah dan halaman depan rumah sudah menjadi rutinitas lala setiap harinya. 

    Tak terasa 2 tahun berlalu, Lala masih menjadi mahasiswi kupu-kupu. dan tepat 2 tahun ini abang lala di wisuda, ini yang membuat Lala ingin keluar dari zona nyamannya. Terlintas di benak Lala "Ya Allah, hamba tidak mungkin bisa hidup sendirian di kota orang, hamba butuh teman untuk bisa membantu ketika hamba di hadapi dengan kesulitan nantinya". perlahan Lala mulai membuka komunikasi dengan teman sekelasnya hingga ia mendapatkan teman yang bernama Kokom dan Pipik. Lala dan 2 temannya itu selalu bersama-sama, makan 1 piring ber tiga, ke kampus pun kadang naik motor bonceng tiga karna udah seakrab itu heheh. 

    Suatu hari, terdengar kabar akan di adakannya pembukaan penerimaan anggota HMJ(Himpunan Mahasiswa Jurusan), 2 temannya ini mengajak Lala untuk ikut juga. Melihat kedua temannya ikut, maka Lala memberanikan diri untuk ikut juga bahkan Lala ikut sanggar yang ada di bawah naungan prodinya, Lala mengambil bidang MC karna Lala merasa harus keluar dari zona nyamannya menjadi seorang introvert. Alhamdulillah Lala bisa menjalankan semuanya, hingga suatu hari sanggar Lala akan mengadakan workshop public speaking dan hasil rapat, Lala terpilih menjadi ketua panitia. Lala shock, karna Lala berpikir ia tidak mampu untuk menjadi pemimpin dalam suatu acara. "Ya Allah, ini diluar kemampuanku.. tolong bantu mudahkan jalan hamba untuk melewati semua ini" gumam Lala dalam hati dengan perasaan yang campur aduk.

    Esoknya, ia diminta untuk membuat proposal yang akan di ajukan kepada dosen-dosen untuk mendukung acara workshop yang diadakan oleh sanggarnya. Lala menjalankan semuanya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Hingga hari yang di nanti tiba, Workshop pun dimulai. Dari awal pembukaan acara Alhamdulillah semua lancar, namun di tengah-tengah acara yang dinanti, narasumber berhalangan hadir.. dan ini benar-benar membuat Lala ketakutan karna ia berpikir acara ini akan kacau.. "bagaimana dengan orang-orang yang telah membeli tiket workshop ini? Apakah aku yang akan menggantinya jika semua ini terhenti sampai disini?" Ucap Lala dalam hati.

    Lala menemui dosennya untuk meminta saran, namun hasilnya membuat Lala lebih shock lagi karna dosennya menyuruh Lala yang mengambil alih menggantikan narasumber yang berhalangan hadir tersebut. Betapa kagetnya Lala saat mendengar saran dari dosennya itu, Lala sempat membantah tak ingin, karna ia tau dia tak pantas dan bahkan tidak berani untuk tampil di hadapan khalayak banyak. Dosennya tetap kekeh dengan sarannya tadi. dengan Bismillah Lala melangkah maju menuju panggung dan mengambil alih menjadi narasumber bersama teman sekelasnya yang saat itu menjadi panitia juga. Lala mengeluarkan apa yang dia tau tentang narkoba, dan Yapp semuanya tanpa persiapan.
Lala dengan percaya diri memberi ilmu yang dia tau tentang narkoba, dan dia pun melakukan tanya jawab dengan audiens. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar.

    Setelah pembubaran panitia, Lala semakin banyak berkomunikasi dengan teman-temannya bahkan saling tukaran nomor whatsapp. Kokom dan pipik bangga dengan temannya itu, karena Lala berhasil keluar dari zona nyamannya.

    Introvert, Extrovert, ataupun Ambivert, manusia itu bisa berubah jika ada kemauan dalam dirinya. semua orng memiliki target hidup masing-masing, mau jadi apa? Mau kemana? tentu semua itu ada prosesnya. Dan proses itu tentu berbeda pula dengan yang lainnya. cukup kamu lihat di balik proses mereka, bagaimana cara mereka keluar dari zona nyaman mereka dan mencoba bangkit dari Kesulitan untuk mencapai tujuan yang ingin mereka capai itu.



 "Senyum yang lahir dari sebuah cerita"
by Ummu Syaira

Di sebuah pesantren yang terletak di pinggir kota, ada satu kelas yang selalu ramai. Bukan karena nakal, tapi karena semangat santri-santri yang tak pernah habis. Namun, semangat itu kadang membuat suasana belajar menjadi sulit dikendalikan. Guru-guru sering kewalahan saat mengajar, karena santri-santri cepat bosan, sulit fokus, dan suka mengobrol saat pelajaran berlangsung.


Hingga suatu hari, datanglah seorang guru baru, ustadzah suci. Perawakannya sederhana, suaranya tegas tidak keras, tapi bisa membuat santri semua terdiam. Ia ditugaskan untuk mengajar Akidah akhlak di kelas itu.


Hari pertama mengajar, ustadzah suci kewalahan mendapati beberapa kendala saat mengajar. Berbagai upaya telah dilakukan namun tak kunjung berhasil.


Tidak menyerah. Di hari selanjutnya, ustadzah suci mencoba untuk tidak langsung membuka buku paket. Ia memandang santri satu persatu, lalu tersenyum dan berkata: “Ananda semua.... sebelum kita belajar, ustadzah mau cerita dulu. Cerita ini bukan sembarang cerita. Ini cerita nyata.” 


Spontan, kelas yang biasanya ribut langsung hening. Pintu yang sebelumnya terbuka lebar, lampu yang menyala, dan tirai juga terbuka lebar. Dengan semangat tangan-tangan yang mungil itu tergerak secepat kilat menutup pintu, memadamkan lampu, dan menutup tirai kelas.


Melihat perlakuan santri membuat ustadzah suci tersenyum dan mulai bercerita tentang sebuah Lilin yang tak pernah padam. Suaranya pelan, penuh jeda, dengan ekspresi wajah yang serius tapi tidak menyeramkan. Santri-santri merinding, tapi tidak bisa berhenti mendengarkan.


Saat cerita sampai di bagian paling menegangkan tentang suara ketukan terdengar dari arah pintu luar, tiba-tiba bel sekolah pun berbunyi. Dan ustadzah suci hanya berkata pelan: “Bersambung, Insyaallah nanti ustadzah lanjutkan lagi ceritanya ya”


Sejak hari itu, santri berubah. Biasanya kalau jam pelajaran dimulai, santri masih di luar kelas, ada yang makan snack, ada yang ngobrol. Tapi sekarang? Santri duduk manis lima menit sebelum bel berbunyi bahkan melirik ke arah pintu berkali-kali, berharap ustadzah suci segera datang.


Setiap kali melihat sosok ustadzah suci dari ujung lorong, beberapa dari santri langsung berdiri dan berkata sambil tersenyum: 

“zah! Lanjutin yang kemarin, ya!”

“Nanti cerita lagi kan, zah?”

“zah horor lagi ya, horor lagi!”. Bahkan sebelum masuk kelas, di depan pintu, suara santri sudah ramai: “zah suci, Jangan lupa cerita yaaa!”

" Zah ana masih ingat cerita kemarin, soalnya ana catat, ayo masuk zah kita cerita lagi". Dan setiap kali itu juga, ustadzah suci hanya tertawa kecil dan menjawab:

“Tapi harus janji dulu, setelah cerita tetap belajar, ya?”


Mereka semua kompak mengangguk. Dan benar saja, setelah cerita selesai, kelas jadi lebih tenang dari biasanya. Rasa penasaran yang memuncak di awal pelajaran membuat mereka lebih fokus di sisa waktu belajar.


Cerita-cerita ustadzah suci selalu bersambung.

Kadang tentang dua kursi yang selalu berpindah tempat di ruang guru, pohon tua yang menangis, atau jam dinding yang berhenti di waktu yang sama setiap malam. Tapi selalu ada makna tersembunyi di balik kisah itu.


Mereka belajar menyimak. Mereka belajar menganalisis. Bahkan, mereka diminta untuk membacakan doa-doa ketika melakukan sesuatu agar terhindar dari marabahaya.


Mereka pun sadar, ustadzah suci tidak hanya sedang bercerita.

Namun juga mengajarkan mereka mencintai kata-kata.

Membuat mereka percaya bahwa membaca, menulis, dan mendengar bisa semendebarkan kisah horor yang diceritakan.


Sekarang, setiap kali ustadzah suci lewat di koridor, tidak ada satu pun dari santri yang tak tersenyum. 

“zah, nanti masuk ke kelas kami lagi ya!”

“Jangan lupa cerita kemarin dilanjukan lagi ya!”

"Besok cerita lagi kan, zah? Jangan lupa sambungannya!"

Dan setiap kali itu juga, ustadzah suci hanya mengangguk, dengan senyum misterius seperti biasa, seolah menyimpan satu cerita lagi yang belum sempat Ia ceritakan.


Pesan dari Cerita Ini:

Kadang, bukan materi pelajaran yang membuat anak-anak mencintai kelas, tapi cara seorang guru membuat mereka menunggu setiap menit kebersamaan di dalamnya.

Lewat cerita, seorang guru bisa membuka pintu ke dunia imajinasi

dan menyelipkan pelajaran di tempat yang paling tidak terduga, di tengah rasa penasaran dan senyuman yang tulus.





 


Aku dan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Khairani Sapitri 


Menurutku, berbagi adalah sesuatu yang indah, apalagi itu bisa menumbuhkan serta membangun semangat membara dalam jiwa seseorang. Dan dalam tulisan ini akan kusampaikan beruntai-untai kalimat dari imajinasi otakku, lebih tepatnya cerita jiwa yang benar-benar kualami selama 17 tahun hidup sebagai seorang ‘manusia'.

Rasanya terlalu cepat waktu berpacu selama ini, hingga tak terasa kini aku sudah berada di bangku perkuliahan yang pada kenyataannya akan sangat berbeda dengan jenjang pendidikan 12 tahun  silam. Dan sudah beberapa kali jika kuhitung, rasa yakin dan pesimis terasa imbang untuk kujadikan sebuah cambuk hidup bagi jiwa dan raga yang tak selaras ini. Namun, kini aku sudah melewati tahapan awal sebagai seorang remaja, dan kini sudah menyandang gelar mahasiswa di UIN STS

Jambi sebagai bagian baru dalam keluarga Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Sebuah bidang yang sama sekali tak kupikirkan akan menjadi bagian dari tiap patok perjalanan hidup seorang Khairani Sapitri, perempuan kelahiran Jambi 18 Agustus 2003 yang sayangnya menyukai dunia sastra dan ilmu fisika dan berangan-angan ingin menjadi seorang ilmuwan, dosen, sekaligus penulis di masa yang akan datang. Benar-benar aneh namun masih terus kujadikan target hidup pasti agar bisa membalas segala jasa kedua orang tuaku di masa tua mereka nanti.

IAT sejujurnya bukanlah pilihan pertama yang ingin kujadikan bagian dalam nominasi jurusan di beberapa PTN yang ingin aku pilih sewaktu di Aliyah. Bahasa Indonesia, Fisika, dan Geofisika adalah pilihan paling pertama dalam benakku sejak naik ke kelas XI di bangku Aliyah, dan itu memang jurusan yang sudah kuyakini dan kupikirkan dengan sangat matang. Dan lagi-lagi, jika kuminta pendapat kedua orang tuaku soal apa yang hendak kuperjuangkan selepas lulus Aliyah, hanya kata agama yang terlintas di benak keduanya. Aku tersenyum kecil sembari menghela napas dengan tertahan, ingin rasanya bertindak egois dan bersikap berani untuk pertama kalinya di depan kedua orang tuaku saat itu, namun aku tak tega untuk melakukannya-aku takut mereka menangis bila diriku egois-dan ini mungkin untuk kesekian kalinya diriku diam dan mengalah lagi.

Sejujurnya, sejak kecil aku selalu imbang untuk mempelajari semua pelajaran, tidak TK dan langsung masuk SD dibarengi dengan belajar di madrasah ketika sore hari, lalu lanjut ke MTs An-Nizham dengan uang hasil tabunganku sendiri dan lagi-lagi melanjutkan perjalanan pendidikanku ke MA Laboratorium dengan kedok agar pulang pergi bisa berjalan kaki dan ditambah lagi dengan beasiswa dari MTs karena menjadi siswa berprestasi. Tak banyak yang tahu tentang diriku, termasuk mamak yang terlihat paling semangat soal pendidikanku  ituditambah lagi kabar beasiswa yang seolah-olah adalah fatamorgana dan mamak bagaikan seonggok tubuh kurus kering setengah mati yang tergeletak naas di gurun Sahara. Saat itu aku tersenyum lebar karena bisa melihat pancaran kebahagiaan dalam manik mata sayu beliau,  tak ingin merusak euforia yang saat itu melanda karena betapa histeris dan gemparnya seisi rumah akibat seruan kebahagiaan mamak. Sudah persis bagai pemenang door prize jalan santai di gubernuran dengan air mata yang meluber hingga membasahi bagian atas jilbabnya, dan kami penghuni seisi rumah hanya bisa tersenyum sembari menahan tawa karena betapa kocaknya bentuk muka mamak yang terlihat di netra kami masing-masing.

Kita tinggalkan sejenak keharuan cerita mamak di atas. Karena sekarang, aku ingin menceritakan pokok permasalahan dan inti dari cerita ini-tentang alasan dan latar belakang terpilihnya UIN STS Jambi dan jurusan IAT olehku di saat aku bahkan baru memasuki umur 16 tahun-kelas XII. Dan itu karena sebuah masalah di rumah dan beberapa contoh cerita nyata yang sempat terpikirkan olehku di malam harinya. Sebuah peristiwa pilu yang tak sengaja terekam jelas oleh indra pendengaran ini ketika melewati kamar bapak dan mamak, sebuah bentakan dan tangis dari mamak terdengar sangat jelas dari tempatku berdiri sambil gemetar menahan tangis. Dan sejak saat itu, aku mengucapkan salam perpisahan pada mimpi-mimpi besarku itu sambil tersenyum namun dalam keadaan yang benarbenar tidak baik. Dan di saat genting seperti itu, seseorang datang ke dalam mimpiku dengan senyum mengembang dan beberapa buku yang terlihat didekap oleh wanita setengah baya itu dengan sangat erat di depan dada. Dan karena beliau, aku sedikit berpikir dan mencoba mengerti keadaan keluargaku yang terbilang kurang mampu untuk menyekolahkan dua pasang anak yang masih ingin meneguk enaknya pendidikan wajib belajar 12 tahunnya.

Keesokan harinya aku mulai mendatangi perpustakaan daerah di belakang gedung UIN STS Jambi untuk Pascasarjana dengan menggunakan sepeda punya sepupu, mencoba memahami apa itu agama dan jenis bidang pengaplikasiannyajurusan. Selang beberapa hari kupusatkan kegiatan membaca buku-buku islami di sana, aku merasa telah jatuh hati pada bidang itu, terlebih lagi ada mahasiswa IAT yang pernah diajak ibu-ibu masjid ketika bulan puasa tahun lalu dan aku ada di antara desak dan sesaknya bahkan untuk sekadar duduk bersimpuh sambil mendengarkan kajian kakak itu dalam membahas beberapa ayat Al-Qur’an. Benarbenar aneh, kenapa bisa begitu cepat aku mencintai bidang itu ?! Ini hampir sama cepatnya dengan aku mencintai bidang pilihanku sendiri yang tentunya sesuai dengan kemampuan dan bakat diriku. Keren sekali diriku ini, terlalu mudah jatuh hati pada bidang lain padahal tak punya bakat yang berkaitan dengannya sama sekali.

Lambat laun semua berjalan dengan sangat cepat, dan fokusku terpecah di antara inginnya aku mengasah lebih tajam kemampuanku di bidang bahasa dan fisika, juga mengenal lebih jauh yang namanya pelajaran soal menafsirkan Al-

Qur’an sesuai kaidah yang baik dan benar. Dan akhirnya pilihan hati kecilku jatuh pada IAT dengan aura para guru di kantor yang seolah memecahkan ketenangan atmosfer di sana, aku menegak saliva dengan penuh kehati-hatian, semua seolah ingin menerkamku atas ucapan tegas dan lantang dariku saat seorang guru SKI menanyai apa pilihanku di jenjang pendidikan selanjutnya yaitu IAT.

“Kan ibu sudah kasih saran untuk ambil jurusan fisika saja, karena kamu pandai di bidang itu.” Guru fisikaku menyela dengan raut wajah kecewa, aku tergelak seketika.

Lalu guru agama lain berdiri dari kursinya dan mendekatiku. “Kenapa tidak ambil jurusan PAI saja, Khairani, bapak yakin kamu akan bisa dengan mudah mengembangkan bakat mengajarmu kelak.”

“Apa yang bisa dihasilkan dari jurusan itu untukmu, Ran? Padahal kamu sudah menguasai lebih dalam bidang kepandaianmu sendiri, apa ini permintaan kedua orang tuamu?” Aku terkejut, apa sebegitu tampaknya ketidakrelaanku saat menjawab jurusan yang akan kupilih tadi? Padahal aku sudah sangat yakin, mengapa jadi ragu kembali? Argh..! Kenapa keraguan menyelimuti benak kalutku kembali?!

“Termasuk itu juga, Bu. Tapi Rani benar-benar yakin kok bisa mempelajari bidang ini dengan semangat, soalnya sepertinya seru dan menantang untuk Rani pelajari.” Jawabku dengan napas menggebu di dada dan sedikit senyum lebar yang kuberi sebagai pemanis agar para guru di kantor semakin yakin dan mau mendukung pilihanku saat itu.

“Huh? Seru dan menantang? Yang benar saja Rani, jurusan bukan sesuatu yang bisa kamu anggap permainan dan dapat diselesaikan dengan mudah, kamu itu bakatnya di linguistik dan juga sains, kenapa malah menyimpang ke ranah baru?” seru wali kelasku yang baru saja keluar dari tempat pengambilan air minum kantor, beliau memang mendukungku untuk mengambil jurusan bahasa di UNJA sejak kelas XI.

“Sudahlah Pak, Bu. Murid kita yang satu ini ingin mempelajari bidang yang tak diajarkan di sekolah ini, jika dia bersungguh-sungguh dan yakin untuk itu maka kita sebagai orang tua keduanya di sekolah wajib mendukung. Benar tidak, Ran?” Salah seorang guru yang kebetulan Waka kurikulum menyela dan tersenyum penuh arti padaku. Ah... Rasanya bahagia sekali ada yang mendukung keinginanku di saat genting seperti saat itu.

Guru SKI yang berada di sampingku langsung memegang kedua bahuku erat, menatap dalam-dalam netra cokelat tua milikku.

“Ya sudah, ibu akan dukung kamu, tapi ingat ya, Rani, kami semua tidak ingin mendengar kamu menyerah di tengah jalan. Kami semua bangga memilikimu sebagai anak didik di sini, jadi pulanglah kembali jika sudah sukses kelak, ya? Kamu anak yang cerdas dan berbakat, bahagiakan mamak dan bapakmu itu dengan segenap jiwa dan ragamu.” Sebuah pelukan hangat menyatu begitu saja pada tubuh kurus keringku, sosok wanita berumur yang dulu ingin mengangkatmu menjadi anaknya dulu ketika awal kelas X mendekapku erat sambil terisak. Dan semua yang ada di dalam ruangan bernuansa putih itu juga terlihat berkaca-kaca seolah ingin menumpahkan tangis mereka untukku, padahal belum tamat tapi sudah menangis berjamaah dalam kantor. Ya Salam... Antara ingin tertawa tapi dalam keadaan air mata tumpah ke mana-mana, bahkan ingus pun hendak turun aksi dalam tragedi haru kala itu. Hahaha.

Dan kini, di sinilah aku berdiri dengan mantapnya, titik terang dari segala keluh kesah dan tantangan yang menjadi pemanas diri dalam mencari kebenaran tentang tujuan dan jati diriku sendiri. Sebuah instansi yang terkenal dengan warna birunya, ramahnya setiap warga kampus di dalamnya, dan keluarga baruku yang bernama IAT. Kerja sampingan yang menguras tenaga, kejar target nilai raport tinggi, terus menulis di waktu luang, meng-handle dua rumah sekaligus, dan tetap menjadi keluarga TPA di masjid sebagai kakak sekaligus guru bagi anak-anak kecil dengan jiwa nakal dan ingin tahu mereka yang tinggi sepertiku dulu. 

Pilihan tepat ini mengajarkan sebuah ibrah yang benar-benar penting, karena saat ini leher para muslim seolah tercekik, dada mereka sesak, dan hati tercabik dengan keadaan Islam saat ini. Dan aku ingin menjadi salah satu bagian dari revolusi Islam yang lebih baik lagi lewat pengamalan Al-Qur'an sesuai manhaj yang diajarkan oleh sahabat nabi SAW. Dan juga ini sesuai dengan atsar yang cukup populer, dikatakan bahwa : “ Jadilah Anda Al-Qur’an yang berjalan di antara manusia.”

IAT memang baru bagiku, tapi bahasa dan fisika tetap bisa kupelajari sebagai pendamping harian belajarku. Karena bapak sering bilang : Tidak ada hidup yang tidak pernah terbanting dan jatuh, karena keras rasa sakit itu kamu akan mengerti bahwa tidak ada yang sia-sia dari suatu usaha. Karena setiap usaha itu akan terjalin dan akhirnya menuntun kita pada jawaban yang dinanti-nanti. Di situ bapak mengujiku, beliau tahu bahwa aku ingin pengakuan darinya sejak SD duludipuji dan diberi selamat ketika menjadi juara umum bahkan pemenang lomba layaknya putri lain kepada ayahnya. Tapi aku cukup tahu diri, karena didikan keras dari bapak aku sedikit jadi acuh terhadap hidup orang lain dan bagaimana mereka yang dulu menertawakanku, karena aku setuju dengan perkataan dari eyang Habibie: “Tidak ada suatu negara maju tanpa pendidikan yang keras.”

Terima kasih untuk mamak dan bapak, aku akan menepati janjiku. Sungguh.

 


A Thousand Dreams

Oleh: Khairani Sapitri

 

Ada berapa banyak peluang Tuhan memberi keberkahan pada seseorang di tiap kehidupan manusia? Tidak ada yang tahu. Tapi, sadarkah Anda seberapa banyak waktu yang terbuang untuk proses mendapatkan keberkahan yang terlewatkan tanpa jejak barang setitik? Saya yakin akan yang satu ini, kita terlalu lalai untuk memaknai keberkahan itu sendiri.

Manusia seolah hilang ingatan jika dia hidup berdasar ‘belas kasih’ dari Tuhan. Ketika Anda mengeluh sebab cobaan, timbul perkara tak sembah Tuhan. Ketika Anda merutuk dan bingsal karena hal yang tak disukai didapatkan, timbul perkara lidah berliku sana-sini, keluarkan sumpah serapah dan berbagai kata sampah. Itulah yang saya maksud dengan lalai, lagi-lagi kita melewatkan momen dalam tahap mendapatkan keberkahan tersebut.

•••

Seluruh dunia berduka akibat kehilangan banyak populasi warga bumi karena pandemi. Ditambah lagi dengan banyak masalah lain, ekonomi jatuh, efektivitas pembelajaran menurun tanpa jeda, buruk, semua terlihat tidak baik-baik saja dengan jelas. Mungkin ini yang dinamakan masa sejuta duka setelah para manusia di abad-abad lalu yang kesulitan bertahan hidup dalam lingkaran perang dan krisis ekonomi. Saya sendiri merasakan kengerian atas masa wabah ini, semua serba terbatas, tahan selera, banyak pengecualian, tuntutan, dan segala ketetapan yang memberi jarak meski itu berniat baik.

Ketika pandemi, saya dan adik-adik langsung jadi petani dadakan, kalau kata bapak sih, hitung-hitung lulur lumpur tanah basah. Kami berempat seperti kurcaci-apalagi adik saya masih terbilang kecil-yang mengekor tuannya setiap hari sambil membawa parang, cangkul, ember bibit dan pupuk menuju lahan kosong yang luas. Bapak ajarkan kepada kami untuk merasakan lelahnya petani Indonesia memberikan pangan terbaik mereka untuk kita. Bapak ajarkan kepada kami untuk tidak pernah malu melakukan sesuatu selagi itu halal, setiap hari dilihat orang dengan baju kotor, tangan dan kaki berlumur tanah, kulit berlapis gores luka, bahkan muka merah penuh peluh.

Saya tidak malu dan gengsi, intinya jalani saja dan jangan terlalu banyak membuang waktu dengan mengeluh, biarkan saja berlalu selayaknya waktu. Percayalah bahwa berkat Tuhan bisa didapatkan siapa saja tanpa memandang siapa dia, mau kaya-miskin, rupawan-buruk rupa, bahkan ustadz-preman sekalipun.



Karena pandemi, saya dan adik juga menjadi pedagang sayur dan buah dadakan di pasar. Membawa dagangan yang bertumpuk lagi segar ketika langit masih memburam hitam abu. Kendati awalnya kami terlihat seperti patung selamat datang yang kaku, akhirnya kami juga bisa menguasai lingkungan dan kehidupan pasar sampai sekarang.

Saban hari melihat beragam rupa pembeli yang kami temui dengan sapaan ramah dan kelakar khas seorang pedagang, kami disajikan sebuah ‘legenda’ yang nyata–para pembeli setingkat dewa. Hahaha. Dan di lain hari, terkadang saya dan adik terlihat seperti orang yang gagap sambil tersenyum di waktu-waktu tertentu, pasalnya, kami pernah kedapatan oleh guru masing-masing yang terkejut karena melihat dagangan kami yang beragam, mulai dari kangkung, bayam, pucuk ubi, terong, singkong, ubi rambat, bahkan kacang tanah dan bengkuang. Rasa hangat di hati dan bahagia yang membuncah di dada, mungkin itu adalah ketenangan yang Tuhan beri untuk kami sekeluarga.

Jika Anda tipikal orang yang suka akan tantangan, pasti paham apa yang kami rasakan, benar-benar menyenangkan. Jika Anda orang yang senang ketika bisa mencapai sesuatu dengan hasil jerih payah sendiri, pasti akan tahu seberapa senangnya saya ketika bisa membeli handphone dan membayarkan biaya sekolah saudara. Merasakan ‘remah kesuksesan’ di masa muda memanglah berbeda. Saya dan adik hanya ingin masa muda kami tidak hangus secara percuma, makan-tidur contohnya, mengembangbiakkan rasa malas dengan tidak sengaja namun disiplin dalam pengerjaannya.

•••

Seribu impian mungkin terlalu ‘banyak’ untuk dimimpikan oleh saya. Tapi tahukah Anda, apa yang selalu saya senangi ketika melakukan semua itu tadi? Cinta, ketulusan, dan kemauan yang kuat. Ketika Anda memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang baru, hanya awalnya saja yang terasa jengkel, setelahnya pasti sudah klepek-klepek setengah mati. Ketika Anda merasa melakukan sesuatu karena sebuah tuntutan padahal jauh dari kemampuan, percayalah bahwa kalimat “bisa karena terbiasa” akan bekerja dengan sendirinya. Jelasnya, mau ada cobaan atau tidak, mau ada di masa pasang atau surut, selama Anda berusaha dengan gigih dan tulus, sudah tentu kejayaan akan segera datang di saat yang tepat dan berlaku dengan tetap jika disiplin.

Maka dari itu, arti berkah menurut saya adalah ketika Anda bisa melakukan banyak hal positif, berbagi ketika berada di masa punya ataupun tidak punya, juga melatih kesabaran, ketulusan, dan cinta karena tujuan pengaplikasian amalan kepada Tuhan.

Terima kasih, saya harap cerita biasa ini bisa bermanfaat sebagaimana yang saya harapkan untuk semua.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Ollustrator. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget