***SELAMAT DATANG DI WEBSITE QUHAS SCHOOL YPT DAR AL-MASALEH JAMBI***
Articles by "HADITS"

 


الْحَمْدُ ِللهِ، الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ  قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ 

Maasyiral Muslimin rahimakumullah, 

Mengawali khutbah Jumat ini, penting bagi kita untuk senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai modal penting dalam menjalani kehidupan yang terus berubah dengan cepat saat ini. Takwa akan menjadi kompas yang akan mengarahkan diri kita pada apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus dijauhi sesuai dengan syariat yang telah ditentukan oleh agama Islam.

Perubahan zaman yang sangat cepat, sering mengakibatkan turbulensi atau guncangan sehingga kita perlu menguatkan ketakwaan agar bisa menjadi modal yang kuat untuk menghadapinya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an QS. Al-Baqarah: 197:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Jama’ah Jumat yang berbahagia, 

Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan manusia. Informasi tersebar dengan cepat, jarak terasa semakin dekat, dan peluang untuk belajar maupun bekerja terbuka luas. Dengan teknologi digital, akses informasi semakin terbuka. Hampir semua orang dapat memperoleh ilmu, berita, atau wawasan hanya dengan sentuhan jari.

Dengan era digitalisasi, kesempatan usaha dan kreativitas juga semakin beragam. Platform digital memberi ruang bagi siapa pun untuk berbisnis, berkarya, bahkan menyalurkan hobi menjadi penghasilan.

Kita juga bisa berkomunikasi, berkolaborasi, bahkan bekerja lintas negara dan budaya. Era saat ini membuka ruang bagi kita untuk menyuarakan pendapat, berbagi ide, dan ikut terlibat dalam perubahan sosial.

Namun, Jamaah Jumat rahimakumullah, 

Di balik keterbukaan itu juga ada tantangan, seperti penyalahgunaan informasi, hoaks yang perlu disikapi dengan literasi digital dan nilai-nilai etika. Di balik semua kemudahan itu, tersimpan tantangan besar, terutama bagi generasi muda yakni ancaman degradasi moral.

Generasi muda adalah aset berharga umat dan bangsa. Jika mereka terseret arus negatif dari dunia digital, maka masa depan umat akan terancam. Oleh sebab itu, Islam telah memberikan panduan bagaimana membina akhlak agar generasi muda tetap terjaga di tengah derasnya arus perubahan zaman. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga moral bukan hanya pada individu, tetapi juga orang tua, pendidik, dan masyarakat.

Jama’ah Jumat rahimakumullah, 

Perlu kita sadari bahwa, zaman digital menyajikan dua wajah yakni peluang dan ancaman. Generasi muda bisa mengakses beragam ilmu dari beragam narasumber dunia melalui media sosial. Namun di saat yang sama, mereka juga bisa terjerumus ke dalam jurang maksiat karena mudahnya akses konten negatif.

Fenomena cyberbullying, kecanduan gawai, perilaku konsumtif, hingga pornografi menjadi bukti nyata dampak buruk teknologi yang tidak dikendalikan.

Islam telah memberikan solusi dalam menghadapi perubahan zaman di antaranya dengan menanamkan akidah dan akhlak sejak dini.

Akidah adalah fondasi iman agar tertanam kuat dan menjadi benteng dari segala godaan dunia maya. Dengan akidah yang kokoh, anak-anak kita akan mampu membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya, bahkan tanpa pengawasan langsung.

Para generasi muda juga harus dibekali dengan literasi digital dan pemahaman bagaimana menggunakan teknologi secara benar. Literasi digital Islami berarti tidak sekadar melek teknologi, tetapi juga beradab dalam penggunaannya. Generasi muda harus diajarkan cara memfilter konten, menghindari hoaks, serta menjaga adab dalam berkomentar. 

Mereka harus dididik untuk memanfaatkan media sosial untuk hal positif seperti sarana dakwah, berbagi ilmu, dan kebaikan. Mereka harus diberikan pemahaman bahwa setiap aktivitas dan postingan di media sosial memiliki konsekuensi dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah swt. Dengan begitu, teknologi menjadi sarana jariyah pahala, bukan jariyah dosa. Rasulullah telah mengingatkan dalam sabdanya:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ   

“Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun,” (HR Muslim).

Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah, 

Untuk memperkuat upaya ini perlu juga dibangun lingkungan sehat yang mampu memberi pengaruh positif mulai dari keluarga, lingkungan, dan juga komunitas-komunitas generasi muda.

Lingkungan sangat memengaruhi perkembangan akhlak remaja. Komunitas yang positif akan membentuk pribadi yang baik, sementara lingkungan buruk bisa menghancurkan karakter mereka.

Dalam keluarga, orang tua harus menciptakan suasana rumah yang penuh kasih sayang dan menetapkan aturan penggunaan gawai. Di tengah masyarakat, para pendidik dan masyarakat harus mendorong remaja untuk aktif dalam kegiatan positif guna menumbuhkan kepekaan sosial dan pembentukan karakter yang tangguh dan kuat, tidak mudah menyerah, tidak gampang mengeluh, dan memiliki optimisme yang tinggi. 

Maasyiral Muslimin rahimakumullah, 

Generasi muda adalah harapan kita bersama yang akan meneruskan tongkat estafet peradaban. Zaman digital memang membawa banyak tantangan, tetapi dengan akidah yang kuat, literasi digital Islami, lingkungan yang sehat, dan ketekunan dalam ibadah, insya Allah mereka bisa menjadi generasi khairu ummah, umat terbaik yang mampu memanfaatkan teknologi untuk kebaikan, bukan untuk kerusakan.

Kita semua pasti menginginkan generasi muda kita seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Maasyiral Muslimin rahimakumullah, 

Semoga generasi muda kita tumbuh menjadi pribadi yang kuat iman, luas ilmu, dan mulia akhlaknya, sehingga mampu membawa kebaikan dan kemaslahatan di tengah derasnya arus digitalisasi dunia. Karena Akhlaq menjadi kunci dalam kehidupan ini, Syauqi Beik seorang penyair bijak mengatakan :

إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ . فَإِنْ هُمُّوْ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا

Hidup dan bangunnya suatu bangsa (Ummat) tergantung pada akhlaknya, jika mereka tidak lagi menjunjung tinggi norma-norma akhlakul karimah, maka bangsa itu akan musnah bersamaan dengan keruntuhan akhlaknya.

 

Semoga di akhir masa bulan kelahiran Nabi atau akhir Rabiul Awal 1447 H ini kita terus membangun kesadaran digital dengan akidah yang kokoh, Akhlaq yang sempurna sejak dini sehingga kita dapat mewujudkan kehidupan bermasyarakat kita menjadi lebih baik. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


 KHUTBAH JUMAT

MASJID AL FITYAH SIMPANG IV SIPIN JAMBI

BELAJAR DARI PERJALANAN HIDUP NABI

Ust. Dr. KH. Hasbullah Ahmad, MA

(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rais Syuriah PWNU Provinsi Jambi, Wakil Pimpinan Pesantren PKP al Hidayah, Ketua Komisi Dakwah Khusus MUI Kota Jambi)


اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَن الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ   

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah.

Kesehatan dan iman adalah nikmat paling mahal saat ini. Betapa banyak saudara dan sahabat sekitar kita yang tidak diberikan dua nikmat istimewa tersebut. Ada yang diberi kesehatan, namun tidak digerakkan hatinya untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat. Demikian pula tidak sedikit yang berusaha agar bisa menjalankan shalat Jumat berjamaah, namun terkendala dengan kesehatan yang tidak memungkinkan. Maka marilah kita terus berusaha dan berupaya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Karena hanya dengan modal iman dan takwa, kita semua bisa menjadi hamba yang selamat di dunia dan akhirat. Karena taqwa dan tawakkal akan melahirkan solusi besar dari Allah SWT untuk kehidupan kita :

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS al Thalaq 2 dan 3).

 

Hadirin sidang jumat yang berbahagia…

Rasa kecintaan untuk meneladani kehidupan Rasulullah masih hidup di dalam dada. Semangat untuk mendalami kehidupan keseharian Rasulullah yang penuh kesederhanaan semakin membakar setiap jiwa insan yang mengaku sebagai umat beliau.:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Tidaklah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali untuk menjadi rahmat sekalian alam” (al-Anbiya: 107)


Rasulullah bukan hanya menjadi rahmat buat kaum muslimin yang menjadikan beliau sebagai panutan dan contoh sejati dalam merealisasikan ketaatan kepada Allah, dalam bersosialisasi sehari, menjadi ayah, menjadi suami, menjadi kakek, menjadi panglima, menjadi Pengusaha bahkan menjadi seorang pemimpin Negara sekaligus Pemimpin Ummat. Tetapi Rasulullah juga adalah rahmat untuk alam sejagat ini, yang di sana hidup manusia-manusia yang tak pernah tahu dan mau tahu buat apa mereka diciptakan oleh Allah. Dengan diutusnya Rasulullah saw ke dunia, dengan membawa cahaya islam, Islam telah mampu merubah kehidupan umat manusia ke arah kehidupan yang penuh makna, menerangi dengan ilmu pengetahuan dan kemakmuran.

 

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah.

pada saat situasi dan kondisi sekarang ini, dimana mana sedang mencari seorang panutan yang ideal yang patut dicontoh. Seorang sosok pribadi yang mulia, yang begitu mencintai umatnya, saat kematian akan menjemput beliau yang beliau ingat dan pikirkan adalah umatnya. Hari-hari Rasulullah pun semasa hidupnya adalah memperhatikan bagaimana umatnya mendapat kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akherat.

 

jamaah jumat yang berbahagia.

Rabi’ul Awwal bukan hanya bulan Rasulullah dilahirkan tetapi pada bulan ini juga beliau diwafatkan oleh Allah SWT, kisah wafatnya begitu menyayat hati kalau kita mengingatnya kembali. Kisah wafatnya Rasulullah sungguh akan menggugah jiwa-jiwa beriman, duka itu masih berbekas walaupun sudah 14 abad berlalu jika kembali untuk dikenang.

 

Seorang sahabat Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Ketika Rasulullah mendekati ajalnya, beliau mengumpulkan kami di rumah ‘Aisyah. Beliau memandang kami tanpa sepata kata, sehingga kami semua menangis menderaikan air mata. Lalu beliau bersabda: “Semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kalian. Aku berwasiat agar kalian bertakwa kepada Allah. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah. Kalau sudah datang ajalku, hendaklah Ali yang memandikan aku, Fudlail bin Abbas yang menuangkan air, dan Usamah bin Zaid membantu mereka berdua. Kemudian kafani aku dengan pakaianku saja manakala kamu semua menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih.

 

Ketika kalian sedang memandikan aku, letakkan aku di atas tempat tidurku di rumahku ini, yang dekat dengan liang kuburku nanti. “Mendengar itu, seketika para sahabat menahan sedih, menangis pilu, sambil berkata: “Wahai Rasulullah, engkau adalah utusan untuk kami, menjadi kekuatan jamaah kami, selaku penentu yang selalu memutusi perkara kami, kalau Engkau sudah tiada, lalu kepada siapakah kami mengadukan semua persoalan kami!?” Rasulullah Saw bersabda: “Aku sudah tinggalkan untuk kalian jalan yang benar di atas jalan yang terang benderang, juga aku tinggalkan dua penasehat, yang satu pandai bicara dan yang satu pendiam. Yang pandai bicara yaitu Al-Qur’an, dan yang diam ialah kematian. Manakala ada persoalan yang sulit bagi kalian, maka kembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnahku, dan andaikan hati keras seperti batu, maka lenturkan dia dengan mengingat kematian.”

 

Jama’ah Jumat yang berbahagia.

Rasulullah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tersenyum. Anas bin Malik melanjutkan ucapannya: “Ketika aku di depan pintu rumah Aisyah, aku mendengar Aisyah sedang menangis dengan kesedihan yang mendalam sambil mengatakan, “Wahai orang yang tidak pernah memakai sutera, wahai orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum, wahai orang yang telah memilih tikar daripada singgahsana, wahai orang yang jarang tidur di waktu malam karena takut Neraka Sa’ir.” Begitulah ungkapan Aisyah seorang istri Rasulullah yang menyadarkan kita bahwa begitulah keseharian Rasulullah tatkala beliau masih hidup. Padahal beliau adalah orang yang telah dijamin Allah untuk masuk surga.

 

Kini sudah 14 abad berlalu saat Rasulullah meninggalkan umatnya, tetapi ajaran beliau selalu hidup dan akan selalu menghidupkan hati orang-orang beriman. Ada beberapa hal yang hendaklah selalu diingat dan diwujudkan, sebagai wujud kecintaan kita kepada Rasulullah saw:

 

Pertama: Ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasululllah dalam beribadah, Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt dalam firmannya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)

 

Kedua : Konsisten taat kepada Allah SWT.

Saat Umar bin Khattab berteriak lantang dengan penuh kesedihan sambil mengeluarkan pedangnya dan mengucapkan: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati akan aku tebas lehernya”. Setelah mendengar itu, Abu bakar menutup kembali kain panjang yang menutupi wajah Rasulullah yang mulia, tetesan air mata mengalir membasahi pipi dan janggutnya, ia kemudian bangun dan melangkah keluar menjumpai Umar. Ia tahu perasaan Umar yang tidak dapat menerima kehilangan Rasul. Dia sendiri sedang bergelut dengan kesedihan yang amat dalam. Lalu dia pun berseru dengan nyaring. Seruan itu ditujukan kepada semua yang hadir terutama kepada Umar. “Barang siapa menyembah Nabi Muhammad, sesungguhnya Rasulullah benar-benar telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah tidak pernah mati dan abadi selama-lamanya.” Kemudian beliau membacakan sebuah firman Allah dalam Al-Quran:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Dan tidaklah Muhammad itu kecuali seorang Rasul. Sudah berlalu rasul-rasul lain sebelumnya. Karena itu, Apakah jika Nabi Muhammad meninggal dunia atau terbunuh, kamu akan murtad dan kembali kepada agama nenek moyang kamu? Sungguh barang siapa murtad kembali kepada agama nenek moyang, tidak sedikit pun menimbulkan kerugian kepada Allah SWT. Dan Allah akan mengganjarkan pahala bagi orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran:144)


Tiba-tiba Umar terjatuh lemah di atas kedua lututnya. Tangannya menjulur ke
bawah bagaikan kehabisan tenaga. Keringat dingin membasahi seluruh badannya. Bagaikan baru hari itu dia mendengar ayat yang sudah lama disampaikan oleh Rasul kepada mereka. Kini hatinya benar-benar tersentak. “Benarlah baginda telah pergi untuk selama-lamanya. Engkau pergi meninggalkan kami yang amat mencintaimu,” rintih hati Umar. Dan tangis kecintaan tersebut terus merambat ke hati para sahabat dan ke seluruh hati umat sehingga akhir zaman. Kecintaan orang beriman kepada Rasulnya yang tidak pernah putus sekalipun oleh kematian karena kecintaan atas dasar iman itu tetap lestari dan abadi. Walau Rasulullah telah tiada, ketaatan kepada Allah harus terus ada selamanya.

 

Ketiga : Meneladani kehidupan Rasulullah

Banyak sisi dari kisah kehidupan Rasulullah yang mesti diteladani oleh umat islam, apalagi pada saat sekarang ini, bangsa kita sangat membutuhkan pemimpin yang dapat membimbing bangsa yang bukan hanya selamat dari krisis global, tapi yang lebih penting dari pada itu seorang pemimpin yang juga dapat membimbing bangsa hingga mereka selamat sampai ke akherat kelak.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh terdapat dalam diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi kalian” (Al-Ahzab: 21)

 

Keempat : Mencintai Rasullullah.

Mencintai Rasulullah adalah kewajiban, membela kehormatan Rasulullah merupakan keharusan, karena itu adalah tanda dari keimanan. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadist shahih:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia” (HR al-Bukhari).

 

Jama’ah Jumat Rahimakumullah.

Rasulullah mengingatkan kita untuk selalu berada dijalan Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT :

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al-An’am : 153)

 

Dengan banyak belajar dari perjalanan hidup dan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, Mudah-mudahan hati kita semakin cinta kepada Rasulullah SAW. Dengan cinta kepadanya kita akan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya, serta kita membangun peradaban yang bersumber dari al-Qur'an dan Hadis secara propersional dan proporsional dan Semoga kita dikumpulkan bersama Rasulullah SAW kelak disurga nanti dengan penuh kecintaan dan kedamaian dan dengan cinta serta banyak bersholawat kepada Nabi menjadi asbab Allah SWT mengangkat berbagai musibah dan krisis dari negeri dan bangsa kita tercinta. Amin Ya Rabb.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

 


 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزِّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر


 

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَى قُلُوْبِ اْلمُسْلِمِيْنَ المُؤْمِنِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ اْلحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْنِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلمِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ أَمَّا بَعْدُ

أَيُّهاَ اْلحَاضِرُوْنَ اْلمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah.

Kesehatan dan iman adalah nikmat paling mahal saat ini. Betapa banyak saudara dan sahabat sekitar kita yang tidak diberikan dua nikmat istimewa tersebut. Ada yang diberi kesehatan, namun tidak digerakkan hatinya untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat. Demikian pula tidak sedikit yang berusaha agar bisa menjalankan shalat Jumat berjamaah, namun terkendala dengan kesehatan yang tidak memungkinkan. Maka marilah kita terus berusaha dan berupaya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Karena hanya dengan modal iman dan takwa, kita semua bisa menjadi hamba yang selamat di dunia dan akhirat.

Hadirin yang Dimuliakan Allah SWT.  

Hakikat diciptakannya manusia adalah untuk menghamba kepada Allah SWT. Untuk tujuan ini pula Allah mengutus para rasul untuk menyeru kepada umat manusia supaya menunaikan kewajiban itu. Tak hanya seruan untuk menyembah Allah, para rasul juga bertanggung jawab menjauhkan mereka dari ketundukan kepada selain Allah, termasuk kepada kesemena-menaan, penjajahan, penindasan, atau semacamnya. Misi para rasul tersebut tampak dalam surat An-Nahl ayat 36 sebagai berikut:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thaghut. (QS An-Nahl: 36)


Secara bahasa, thaghut berakar kata dari thaghâ yang bermakna melampaui batas. Dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim, Ibnu Katsir menafsirkan thaghut sebagai menyembah sesuatu selain Allah. Menurut pakar tafsir Qur'an Prof Quraish Shihab, thaghut mengacu pada segala macam kebatilan, baik dalam bentuk berhala, ide-ide yang sesat, manusia durhaka, atau siapa pun yang mengajak pada kesesatan, beliau juga mengartikan thaghut sebagai "tiran yang merusak".


Hampir semua ulama tafsir sepakat bahwa thaghut identik dengan tindakan di luar batas sebagai bentuk kedurhakaan kepada Allah. Thaghut adalah berhala-berhala yang tak hanya bisa berbentuk patung, tapi juga kondisi-kondisi yang menjauhkan manusia dari ketundukkan hanya kepada Allah. Dalam sejarah, para rasul diutus juga untuk membebaskan dan memerdekakan umatnya dari belenggu itu semua, dan mewujudkan umat yang merdeka dalam ketaatan kepada Allah SWT.

 

Jamaah Jumat yang Berbahagia.

Nabi Ibrahim saat diutus oleh Allah mendapati masyarakatnya berkubang dalam keimanan yang rusak. Patung-patung berhala dipertuhankan, termasuk oleh ayahandanya sendiri yakni Azar. Dengan strategi yang matang, Nabi Ibrahim pun berjuang menyadarkan mereka bahwa berhala tak memiliki kekuatan apa-apa. Memuliakannya atau bahkan menganggapnya sebagai tuhan merupakan kesesatan yang nyata.


Tugas Nabi Ibrahim makin berat ketika kesesatan tersebut ditopang kekuasaan zalim Raja Namrud. Ia mesti mengatasi dua persoalan sekaligus, yakni membebaskan umat dari berhala sekaligus memerdekakan mereka dari tiran yang merusak yakni Namrud. Allah menolong Nabi Ibrahim, termasuk ketika beliau dibakar oleh penguasa yang sewenang-wenang tersebut.

Perjuangan yang mirip juga dialami oleh Nabi Musa. Bahkan, Nabi Musa tidak hanya menghadapi orang yang menyembah selain Allah, melainkan raja yang mengaku sebagai tuhan itu sendiri. Fir'aun dengan segenap kesombonganya mengaku diri sebagai tuhan dan berupaya melenyapkan semua orang yang menentangnya. Umat Nabi Musa pun berada dalam penindasan yang parah, baik secara jasmani maupun rohani. Nabi Musa hadir untuk menaklukkan penindasan ini dan mengajak umat untuk kembali ke jalan Allah secara merdeka.

 

Jamaah Jumat Hafidhakumullâh

Apa yang dialami Rasulullah Muhammad SAW sesungguhnya juga tak jauh dari jejak para nabi pendahulunya. Seruan masuk Islam Nabi Muhammad bersamaan dengan kebejatan moral yang akut di tanah Arab, fanatisme suku-suku hingga sering terjadi peperangan, paganisme, penghinaan atas martabat kaum perempuan, dan lain sebagainya.


Risalah baginda Nabi Muhammad SAW hadir untuk memerdekakan umat yang sedang dalam kegelapan tersebut menuju jalan cahaya yang diridhai Allah atau minadh dhulumâti ilân nûr. Melalui ajaran tauhid, Nabi Muhammad menghapus semua klaim paling mulia dan berkuasa selain Allah SWT. Beliau membawa kepada arah masyarakat yang setara, dan mengingatkan bahwa kemuliaan diukur dengan tingkat ketakwaan atau inna akramakum 'inda-Llâhi atqâkum, bukan dengan hirarki perbedaan suku, strata ekonomi, jenis kelamin, atau identitas sosial lainnya.


Dengan fakta ini, tak berlebihan jika kita menyebut perjuangan Rasulullah Muhammad SAW sebagai perjuangan kemerdekaan yang luar biasa. Sebuah ikhtiar sungguh-sungguh membebaskan masyarakat dari dan kemerosotan moral dan sistem masyarakat yang menindas saat itu. Revolusi dan reformasi yang dilakukan Nabi mencakup aspek spiritual dan material sehingga menciptakan peradaban yang lebih manusiawi. Rasulullah bukan cuma mengajak manusia untuk hanya tunduk dan menghamba kepada Allah, tapi juga melaksanakan konsekuensi dari ajaran tauhid ini, yakni bersikap baik kepada seluruh makhluk Allah--termasuk manusia--dengan penuh kasih sayang.

 

Sikap ini selaras dengan misi utama diutusnya baginda Nabi Muhammad SAW:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al-Anbiya’: 107)

 


 

Jamaah Jumat yang Berbahagia

Fakta kenyataan sejarah hidup di dunia ini. Setiap penindasan, penjajahan, dan penyimpangan selalu menghendaki perjuangan total untuk melakukan perubahan. Para nabi terdahulu meneladankan itu semua bukan saja dengan pengorbanan harta, tenaga, dan pikiran tapi bahkan risiko hilangnya nyawa. Nabi Ibrahim mengalami dilempar ke dalam api yang sedang berkobar, Nabi Musa menjadi buronan Fir’aun, serta Nabi Muhammad SAW yang berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan dari musuh-musuh dedengkotnya.


Ini pula yang dilakukan para ulama, tokoh, dan segenap elemen bangsa lainnya seperti dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Keringat dan darah rela mereka korbankan untuk membebaskan umat dari penindasan yang memang menjadi musuh setiap agama, termasuk Islam. Sebab, kemerdekaan adalah syarat mutlak dari terciptanya kondisi aman. Sedangkan keamanan adalah prasyarat bagi setiap insan untuk tenang dan khusyuk menunaikan ibadah kepada Allah SWT. 


Jama’ah jumat yang diberkati Allah SWT.

Setelah merdeka, apa yang mesti kita lakukan?

Pertama, tidak lain adalah menjalankan fungsi pokok diciptakannya manusia, yakni menghamba secara total kepada Allah. Dijalankannya fungsi kehambaan ini juga menjadi tujuan dari risalah tiap-tiap rasul.

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS al Zariyat 56)

 

Kedua, membangun peradaban manusia yang mencerminkan ketaatan kepada nilai-nilai ketuhanan. Termasuk dalam hal ini adalah mengembangkan semangat rahmatan lil ‘alamin, kasih sayang kepada manusia, binatang, dan alam/lingkungan dengan menghindari sikap semena-mena, serakah, dan zalim.

 

Jama’ah jumat yang diberkati Allah SWT.

Kita harus mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal positif sesuai dengan posisi kita masing-masing. Yang petani mari terus bekerja untuk menjadi pahlawan pangan di era modern. Yang guru mari terus didik para generasi bangsa untuk menjadi penerus tongkat estafet peradaban luhur. Termasuk para pelajar dan generasi muda, mari terus tingkatkan kualitas diri dengan belajar sungguh-sungguh untuk terus merawat kemerdekaan dan keamanan negara ini sampai akhir nanti. Dan tentunya semua profesi harus bersama-sama mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal positif. Kita tak boleh menjadi orang yang tak tahu berterima kasih dan orang yang melupakan sejarah bagaimana bangsa ini didirikan. Jangan sampai kita menjadi orang yang malah merusak tatanan damai bangsa kita tercinta ini.

 

Akhirnya, Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah SWT. Semoga kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia ke 78 menjadi semangat bagi kita untuk menjaga NKRI dari rongrongan orang orang yang ingin memecah belahkan kita dengan ujaran kebencian, hoak dan media social, maka mari kita bersama terus melaju untuk Indonesia maju, sehingga keamanan akan terus kita rasakan yang berbuah kepada semakin kuatnya keimanan dan ketakwaan kita pada Allah swt. Amin Ya Rabb…

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


DOWNLOAD PDF DISINI!



Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Ollustrator. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget