KHUTBAH JUMAT
MASJID AL FITYAH SIMPANG IV
SIPIN JAMBI
BELAJAR DARI PERJALANAN HIDUP NABI
Ust. Dr. KH. Hasbullah Ahmad, MA
(Owner Sekolah
Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN
STS Jambi, Wakil Rais Syuriah PWNU Provinsi Jambi, Wakil Pimpinan Pesantren PKP
al Hidayah, Ketua Komisi Dakwah Khusus MUI Kota Jambi)
اْلحَمْدُ
للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ
النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك
لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى
سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى
يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ
بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي
اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمَن الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله
وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال
تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah.
Kesehatan
dan iman adalah nikmat paling mahal saat ini. Betapa banyak saudara dan sahabat
sekitar kita yang tidak diberikan dua nikmat istimewa tersebut. Ada yang diberi
kesehatan, namun tidak digerakkan hatinya untuk melaksanakan ibadah shalat
Jumat. Demikian pula tidak sedikit yang berusaha agar bisa menjalankan shalat
Jumat berjamaah, namun terkendala dengan kesehatan yang tidak memungkinkan.
Maka marilah kita terus berusaha dan berupaya dalam meningkatkan keimanan dan
ketakwaan kepada Allah swt. Karena hanya dengan modal iman dan takwa, kita
semua bisa menjadi hamba yang selamat di dunia dan akhirat. Karena taqwa dan tawakkal
akan melahirkan solusi besar dari Allah
SWT untuk kehidupan kita :
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ
حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ
ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا
Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, Dan
memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya
Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS al
Thalaq 2 dan 3).
Hadirin sidang jumat yang berbahagia…
Rasa kecintaan untuk meneladani
kehidupan Rasulullah masih hidup
di dalam dada. Semangat untuk mendalami kehidupan keseharian Rasulullah yang penuh kesederhanaan
semakin membakar setiap jiwa insan yang mengaku sebagai umat beliau.:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Tidaklah Kami mengutusmu wahai
Muhammad kecuali untuk menjadi rahmat sekalian alam” (al-Anbiya: 107)
Rasulullah bukan hanya menjadi rahmat buat kaum muslimin yang menjadikan beliau
sebagai panutan dan contoh sejati dalam merealisasikan ketaatan kepada Allah,
dalam bersosialisasi sehari, menjadi ayah, menjadi suami, menjadi kakek,
menjadi panglima, menjadi Pengusaha bahkan menjadi seorang pemimpin Negara
sekaligus Pemimpin Ummat. Tetapi Rasulullah juga adalah rahmat untuk alam
sejagat ini, yang di sana hidup manusia-manusia yang tak pernah tahu dan mau
tahu buat apa mereka diciptakan oleh Allah. Dengan diutusnya Rasulullah saw ke
dunia, dengan membawa cahaya islam, Islam telah mampu merubah kehidupan umat
manusia ke arah kehidupan yang penuh makna, menerangi dengan ilmu pengetahuan
dan kemakmuran.
Jamaah jumat yang dimuliakan Allah.
pada saat
situasi dan kondisi sekarang ini, dimana mana sedang mencari seorang panutan
yang ideal yang patut dicontoh. Seorang sosok pribadi yang mulia, yang begitu mencintai
umatnya, saat kematian akan menjemput beliau yang beliau ingat dan pikirkan
adalah umatnya. Hari-hari Rasulullah pun semasa hidupnya adalah memperhatikan
bagaimana umatnya mendapat kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akherat.
jamaah jumat
yang berbahagia.
Rabi’ul Awwal bukan
hanya bulan Rasulullah dilahirkan tetapi pada bulan ini juga beliau diwafatkan
oleh Allah SWT, kisah wafatnya begitu menyayat hati kalau kita mengingatnya
kembali. Kisah wafatnya Rasulullah sungguh akan menggugah jiwa-jiwa beriman,
duka itu masih berbekas walaupun sudah 14 abad berlalu jika kembali untuk
dikenang.
Seorang sahabat
Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Ketika Rasulullah mendekati ajalnya, beliau
mengumpulkan kami di rumah ‘Aisyah. Beliau
memandang kami tanpa sepata kata, sehingga kami semua menangis menderaikan air
mata. Lalu beliau bersabda: “Semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan
petunjuk kepada kalian. Aku berwasiat agar kalian bertakwa kepada Allah.
Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah. Kalau sudah datang ajalku,
hendaklah Ali yang memandikan aku, Fudlail bin Abbas yang menuangkan air, dan
Usamah bin Zaid membantu mereka berdua. Kemudian kafani aku dengan pakaianku
saja manakala kamu semua menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih.
Ketika kalian sedang memandikan aku,
letakkan aku di atas tempat tidurku di rumahku ini, yang dekat dengan liang
kuburku nanti. “Mendengar itu, seketika para sahabat menahan
sedih, menangis pilu, sambil berkata: “Wahai Rasulullah, engkau adalah utusan untuk
kami, menjadi kekuatan jamaah kami, selaku penentu yang selalu memutusi perkara
kami, kalau Engkau sudah tiada, lalu kepada siapakah kami mengadukan semua
persoalan kami!?” Rasulullah Saw
bersabda: “Aku sudah tinggalkan untuk kalian jalan yang benar di atas jalan
yang terang benderang, juga aku tinggalkan dua penasehat, yang satu pandai
bicara dan yang satu pendiam. Yang pandai bicara yaitu Al-Qur’an, dan yang diam
ialah kematian. Manakala ada persoalan yang sulit bagi kalian, maka kembalikan
kepada Al Qur’an dan Sunnahku, dan andaikan hati keras seperti batu, maka
lenturkan dia dengan mengingat kematian.”
Jama’ah Jumat yang berbahagia.
Rasulullah telah menghembuskan
nafasnya yang terakhir dengan tersenyum. Anas bin Malik melanjutkan ucapannya:
“Ketika aku di depan pintu rumah Aisyah, aku mendengar Aisyah sedang menangis
dengan kesedihan yang mendalam sambil mengatakan, “Wahai orang yang tidak
pernah memakai sutera, wahai orang yang keluar dari dunia dengan perut yang
tidak pernah kenyang dari gandum, wahai orang yang telah memilih tikar daripada
singgahsana, wahai orang yang jarang tidur di waktu malam karena takut Neraka
Sa’ir.” Begitulah ungkapan Aisyah seorang istri
Rasulullah yang menyadarkan kita bahwa begitulah keseharian Rasulullah tatkala
beliau masih hidup. Padahal beliau adalah orang yang
telah dijamin Allah untuk masuk surga.
Kini sudah 14 abad berlalu saat Rasulullah meninggalkan umatnya,
tetapi ajaran beliau selalu hidup dan akan selalu menghidupkan hati orang-orang
beriman. Ada beberapa hal yang hendaklah selalu diingat dan diwujudkan, sebagai
wujud kecintaan kita kepada Rasulullah saw:
Pertama: Ikhlas dan mengikuti
tuntunan Rasululllah
dalam beribadah, Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt dalam firmannya:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً
وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
“Barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada
Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)
Kedua :
Konsisten taat kepada Allah SWT.
Saat Umar bin
Khattab berteriak lantang dengan penuh kesedihan sambil mengeluarkan pedangnya dan
mengucapkan: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati akan aku
tebas lehernya”. Setelah mendengar itu, Abu bakar menutup kembali kain panjang
yang menutupi wajah Rasulullah yang mulia, tetesan air mata mengalir membasahi
pipi dan janggutnya, ia kemudian bangun dan melangkah keluar menjumpai Umar. Ia tahu perasaan Umar yang tidak dapat menerima kehilangan Rasul. Dia sendiri
sedang bergelut dengan kesedihan yang amat dalam. Lalu dia pun berseru dengan
nyaring. Seruan itu ditujukan kepada semua yang hadir terutama kepada Umar.
“Barang siapa menyembah Nabi Muhammad, sesungguhnya Rasulullah benar-benar
telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah tidak pernah mati dan
abadi selama-lamanya.” Kemudian beliau membacakan sebuah firman Allah dalam Al-Quran:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ
عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ
الشَّاكِرِينَ
“Dan tidaklah Muhammad itu kecuali
seorang Rasul. Sudah berlalu rasul-rasul lain sebelumnya. Karena itu, Apakah
jika Nabi Muhammad meninggal dunia atau terbunuh, kamu akan murtad dan kembali
kepada agama nenek moyang kamu? Sungguh barang siapa murtad kembali kepada
agama nenek moyang, tidak sedikit pun menimbulkan kerugian kepada Allah SWT.
Dan Allah akan mengganjarkan pahala bagi orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran:144)
Tiba-tiba Umar terjatuh lemah di atas kedua lututnya. Tangannya menjulur ke bawah bagaikan
kehabisan tenaga. Keringat dingin membasahi seluruh badannya. Bagaikan baru hari itu dia
mendengar ayat yang sudah lama disampaikan oleh Rasul kepada mereka. Kini
hatinya benar-benar tersentak. “Benarlah baginda telah pergi untuk
selama-lamanya. Engkau pergi meninggalkan kami yang amat mencintaimu,” rintih
hati Umar. Dan tangis
kecintaan tersebut terus merambat ke hati para sahabat dan ke seluruh hati umat
sehingga akhir zaman. Kecintaan orang beriman kepada Rasulnya yang tidak pernah
putus sekalipun oleh kematian karena kecintaan atas dasar iman itu tetap
lestari dan abadi. Walau Rasulullah telah tiada, ketaatan kepada Allah harus terus ada
selamanya.
Ketiga :
Meneladani kehidupan Rasulullah
Banyak sisi
dari kisah kehidupan Rasulullah yang mesti diteladani oleh umat islam, apalagi
pada saat sekarang ini, bangsa kita sangat membutuhkan pemimpin yang dapat
membimbing bangsa yang bukan hanya selamat dari krisis global, tapi yang lebih
penting dari pada itu seorang pemimpin yang juga dapat membimbing bangsa hingga
mereka selamat sampai ke akherat kelak.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh terdapat dalam diri Rasulullah
suri tauladan yang baik bagi kalian”
(Al-Ahzab: 21)
Keempat :
Mencintai Rasullullah.
Mencintai Rasulullah
adalah kewajiban, membela kehormatan Rasulullah merupakan keharusan, karena itu
adalah tanda dari keimanan. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadist shahih:
لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين
“Tidak sempurna iman salah seorang
di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan
seluruh manusia” (HR al-Bukhari).
Jama’ah Jumat
Rahimakumullah.
Rasulullah
mengingatkan kita untuk selalu berada dijalan Allah SWT, sebagaimana firman
Allah SWT :
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Ini adalah
jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan
(yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al-An’am : 153)
Dengan banyak belajar dari
perjalanan hidup dan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, Mudah-mudahan hati kita
semakin cinta kepada Rasulullah SAW. Dengan cinta kepadanya kita akan
melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya, serta kita membangun
peradaban yang bersumber dari al-Qur'an dan Hadis secara propersional dan
proporsional dan Semoga kita dikumpulkan bersama Rasulullah SAW kelak disurga
nanti dengan penuh kecintaan dan kedamaian dan dengan cinta serta banyak bersholawat kepada Nabi
menjadi asbab Allah SWT mengangkat berbagai musibah dan krisis dari negeri dan bangsa kita tercinta. Amin Ya Rabb.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah
Kedua
اَلْحَمْدُ
للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ
رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ
ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان
وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا
مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزِّ اْلإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ
الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ
! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
Posting Komentar