***SELAMAT DATANG DI WEBSITE QUHAS SCHOOL YPT DAR AL-MASALEH JAMBI***
Latest Post

 


DOWNLOAD PDF DISINI!


 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×)

اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْكُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْوَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ. اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ
Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Marilah kita sambut hari raya idul fitri ini dengan takbir mengumadangkan kebesaran Allah swt. الله اكبر الله اكبر الله اكبر….Karena Allah sajalah yang berhak untuk diagung-agungkan, barang siapa yang mengagungkan selain Allah maka ia termasuk orang yang melampaui batas dan telah berbuat kesyirikan yang nyata. Naudzu bi LLah.

Lihatlah diri kita, bukankah seringkali kita merasa paling besar, seolah-olah semua manusia kecil dan harus takluk dihadapan kita. Kita berlagak seolah kita adalah Tuhan yang kuasa atas segala keadaan. Tidakkah kita sadar, bahwa kita sesungguhnya tidak lain adalah makhluk yang sangat-sangat lemah, maka kepada siapa lagi kita berharap selain kepada Allah swt yang telah menciptakan kita dan dengan kasih sayang Allahlah kita diberi kesempatan menikmati hidup di dunia milik Allah ini.

Maka apa sesungguhnya yang menahan kaki kita tidak mau melangkah ke masjid? Apakah yang menahan kepala kita sehingga tidak mau menunduk ke tanah bersujud di hadapan Allah? Apakah yang menahan lidah kita sehingga kaku dan kelu mengucapkan dzikir dan takbir ? Apakah yang menahan hati kita sehingga sulit merindukan Allah ?

Apakah yang menahan pikiran kita sehingga tidak mendambakan surga? Apakah yang mendorong jiwa kita sehingga cenderung ke neraka? Apakah yang menahan diri kita sehingga mengabaikan hak-hak Allah dan cenderung memperturutkan hawa nafsu padahal hawa nafsu itu mendorong kepada kejelekan? Apakah kesombongan kita sudah demikian memuncak, sehingga sedemikan lantang kita durhaka kepada Allah. Na’udzu billah min dzalik…

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ
Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Berbahagialah kita karena hingga hari ini kita dimudahkan oleh Allah untuk bersujud, rukuk, dihadapan Allah. Janganlah karena perilaku kita yang menetang Allah menjadikan Allah semakin murka kepada kita. Janganlah karena kesombongan dan kebodohan kita menjadi sebab terhalangnya kita dari jalan surga dan menghalangi kita mendekati Allah swt. Apakah selepas ramadhan semakin dekat dengan Islam ataukah justru semakin jauh?? hanya diri kita sendiri yang nanti akan membuktikan.

 

Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfirah-Nya sebagaimana yang tersurat dalam sebuah hadis Qudsi:

يَا عِبَادِى صُمْتُمْ لِى وَاَفْطَرْتُمْ لِى فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُم

'Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.”

Se-Bulan Ramadhan dimana kemuliaan menemani kita, satu bulan yang suci, berkah dan penuh rahmat serta ampunan yang mengantarkan kita untuk merasakan sentuhan kasih sayang Sang Maha Penyayang yang barang kali kita lupakan pada bulan-bulan yang lain. Sebelas bulan dalam setahun kita sibuk mengejar kemewahan, superioritas, gelimang gemerlapnya dunia, dan tanpa kita sadari bertumpuk-tumpuk dosa dan kesalahan dipundak kita dan kita sudah terbiasa melupakannya, mengkristalkan bongkahan-bongkahan batu kesombongan dalam hati kita, mengobarkan api permusuhan terhadap siapa saja yang menghalangi kita serta buta kepada yang ada di “bawah” dan sekitar kita.Naudzu biLLAH.

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْد

Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Jika kita ingin kembali kepada kesucian secara hakiki, maka kita semestinya mampu menjadikan momen-momen Ramadhan yang telah berlalu sebagai sebuah I’tibar atau pelajaran untuk menjalani kehidupan kedepan, Jika setelah ramadhan kita dapat meningkatkan kualitas hidup kita lebih baik secara Agama dan Sosial dibandingkan tahun lalu, maka inilah indikasi ramadhan sukses dan berkah. Namun jika sebaliknya justru menjadi lebih buruk dibanding sebelum ramadhan, maka keberkahan ramadhan tidak pernah menghampiri kita. Iyyadzu biLLAH.

Puasa merupakan penyucian jiwa, peninggian spirit; mengajarkan kepada manusia bagaimana mengangkat diri dari derajat hewan yang kebutuhannya hanya memenuhi perut; makan dan minum, mengajarkan kepada manusia bagaimana meninggikan diri mereka sampai ke derajat para malaikat yang menjadikan kedekatan kepada Allah, ibadah, dan takwa kepada-Nya sebagai makanan bagi ruh mereka. Puasa yang telah kita lalui mendidik untuk membiasakan sifat sabar, mengekang hawa nafsu, membiasakan untuk menanggung beban berat, dan tabah dalam menghadapi liku-liku kehidupan. Puasa menumbuhkan keutamaan sifat amanah dan ikhlas dalam berbuat; beribadah hanya karena Allah, bukan karena mengharapkan pujian dan mencari muka. Puasa merupakan penjernihan jiwa dari noda-noda dunia dan godaan-godaannya; puasa merupakan pembebas jiwa dari jeratan kenikmatan dan keasyikan rendah dunia.

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ
Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Motivasi utama puasa atau shiyâm meninggikan derajat manusia ke puncak kehidupan ruhaniyah yang tinggi dan mulia dalam pandangan Allah. Dalam pandangan Islam, derajat tertinggi manusia adalah yang Takwa. Allah menegaskan dalam firmannya:

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa" (QS. al-Hujurat:13).

Siapa pun dapat mencapai derajat ini tanpa memandang status sosial. Kita sekarang sedang mengalami defisit atau kekurangan orang-orang bertaqwa, orang yang bertaqwa jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang jahat, kotor dan tak bermoral, Naudzu billah wa Nastaghfirullah. Semoga pelajaran dan hikmah ramadhan yang telah lalu melekat dalam jiwa kita sehingga kita terlahir menjadi orang yang bertaqwa.

Seandainya negara seperti Indonesia dan negeri kita Jambi ini dipenuhi orang-orang yang bertakwa, krisis yang melanda tentu akan mudah teratasi. Kenapa demikian? Orang yang bertakwa akan selalu dibimbing Allah, diberi petunjuk ke jalan yang benar, sehingga mereka akan mampu memecahkan setiap permasalahan. Allah berjanji,

وَٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلۡمُتَّقِينَ

Allah akan menjadi pembimbing bagi orang-orang yang bertakwa (QS. al-Jatsiyah: 19).

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْد

Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Ramadhan menanamkan Pesan moral atau Tahdzibun Nafsi pada diri kita Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda:   اشد الجهاد جهاد الهوى Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri.

Hujjatul Islam, Abû Hâmid al-Ghazâlî berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan. Pertama, sifat kebinatangan (بَهِيْمَةْ); tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu. Kedua, sifat buas (سَبُعِيَّةْ) ; tanda-tandanya banyaknya kezhaliman dan sedikit keadilan. Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar.

Ketiga sifat (شيطانية) syaithaniyah; tanda-tandanya mempertahankan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia. Jika ketiga tiga sifat ini lebih dominan atau lebih mewarnai sebuah masyarakat atau bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan sosial yang sangat mengkhawatirkan. Dimana keadilan akan tergusur oleh kezhaliman, hukum bisa dibeli dengan rupiah, undang-undang bisa dipesan dengan Dollar, sulit membedakan mana yang hibah mana yang suap, penguasa lupa akan tanggungjawabnya, rakyat tidak sadar akan kewajibannya, seluruh tempat akan dipenuhi oleh keburukan dan kebaikan menjadi sesuatu yang terasing, ketaatan akhirnya dikalahkan oleh kemaksiatan dan seterusnya dan seterusnya. NaudzubiLLAH.

Sedangkan satu-satunya sifat yang membahagiakan adalah sifat rububiyah (رُبُوْبِيَّةْ); ditandai dengan keimanan, ketakwaan dan kesabaran yang telah kita bina bersama-sama sepanjang bulan Ramadhan. Orang yang dapat dengan baik mengoptimalkan sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya Al-Qur'an, prilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah). Selanjutnya, ia akan menjadi insan muttaqin, insan pasca Ramadhan, yang menjadi harapan setiap orang. Insan yang dalam hari raya ini menampakkan tiga hal sebagai pakaiannya: menahan diri dari hawa nafsu, memberi maaf dan berbuat baik pada sesama manusia sebagaimana firman Allah:

وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

"dan orang-orang yang menahan amarahnya, memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran: 134).


اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْد

Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Ramadhan menanamkan pesan sosial dalam dalam hidup kita Pesan sosial Ramadhan ini terlukiskan dengan indah indah justru pada detik-detik akhir Ramadhan dan gerbang menuju bulan Syawwal. Dimana, ketika umat muslim mengeluarkan zakat mal dan zakat fithrah kepada Ashnafuts Tsamaniyah (delapan kategori kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakir miskin tampak bagaimana tali silaturrahim serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi.

Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi dan tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan.

Semangat zakat ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta`awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan, sejalan hatinya sebab كُلُّكُمْ عِيَالُ اللهِ , kalian semua adalah ummat Allah.

Semua orang pernah merasakan kenyang tapi tidak semua orang pernah merasakan lapar. Padahal Allah telah mengingatkan di dalam al Qur’an semua kita adalah sama dalam pandangan Allah SWT:

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلرِّزۡقِۚ فَمَا ٱلَّذِينَ فُضِّلُواْ بِرَآدِّي رِزۡقِهِمۡ عَلَىٰ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَهُمۡ فِيهِ سَوَآءٌۚ أَفَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah? (QS An Nahl 71).

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Rasanya akan terhiris hati kita ketika melihat kesenjangan sosial menjadi pembeda antara kaum kaya dan papa, seperti terhirisnya hati kita ketika melihat fenomena dua anak yang berbeda latar belakang, yang satu anak yang kaya lengkap dengan berbagai kemewahan, ketika hari raya tiba mereka dengan semangat menyampaikan kepada kedua orang tua mereka ”Pa... belikan sepatu baru dong”, si ayahpun dengan tegas menjawab ”nanti ayah belikan” terus kembali lagi meminta kepada ibundanya ”ma... belikan adek baju baru dong” si ibupun menjawab dengan lugas ”ya pasti mama belikan yang paling bagus”... dan banyak lagi permintaan lain yang dipintanya semua terkabulkan karena kemewahan dan kekayaan yang mereka miliki.

Sementara disisi lain seorang anak yatim piatu tanpa ayah dan ibu, ketika hari raya tiba mereka hanya bisa menghadiri pusara ayah dan ibunya dengan semangat sambil membacakan al Fatihah sebagai dedikasi cinta kepada kedua orang tuanya, sembari mengucapkan diatas pusara ayahnya : ” Yah... sepatu yang ayah belikan dulu sudah usang dan rusak, maukan ayah belikan adek sepatu baru... yang diterima hanyalah tiupan angin sepoi-sepoi, lalu berlanjut ke pusara ibundanya sambil bergumam : ”mak... baju adek sudah jelek mak, maukan mak belikan adek baju baru, kawan-kawan adek pake baju baru semua” tiada sedikitpun jawaban yang diterima namun si anak tetap bahagia walau hampa tanpa jawaban. SubhanaLLAH wa AstaghfiruLLAH.

Maka melalui zakat, Infaq dan Shadaqah yang telah kita tunaikan bisa menjadi penyambung silaturahim dan perwujudan nilai kepekaan bagi diri kita dalam kehidupan bermasyarakat untuk dapat memahami bagaimana susahnya fakir dan miskin melawan jalan kehidupan yang penuh duri ini. 

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Marilah sejenak kita menengadahkan tangan dan memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, dengan terlebih dahulu memuji-Nya dan bershalawat serta bersalam kepada baginda Rasulullah . Tundukkan kepala, renungkan diri kita, hayati keadaan kita, dan mohonkan ampunan kepada Rabb kita.

Ya Allah, Ya Rabb kami, taqabbal minnā terimalah seluruh amal saleh kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Watub ‘alainā terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bertakwa dan diberkahi di mana pun berada. Jangan jadikan kepergian Ramadan berlalu sementara kami termasuk orang-orang yang rugi dan celaka, tetapi jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diampuni dan dimaafkan.

Ya Rabb kami, sayangilah kedua orang tua kami. Jagalah mereka yang masih hidup dan rahmatilah mereka yang telah mendahului kami. Berikanlah kepada kami taufik untuk selalu menjadi anak-anak yang saleh dan berbakti kepada mereka.

Ya Allah, mudahkanlah urusan saudara-saudara kami yang ingin menyempurnakan separuh agamanya. Jadikanlah kami yang telah Engkau karuniai pasangan sebagai keluarga yang Engkau ridhai. Anugerahkanlah kepada yang belum memiliki keturunan anak-anak yang saleh dan salehah. Bantulah kami dalam membimbing anak-anak dan keturunan kami agar menjadi generasi yang membanggakan di dunia dan terlebih lagi di akhirat.

Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman, tenteram, makmur, dan penuh keberkahan. Jauhkanlah dari berbagai marabahaya dan petaka. Berilah hidayah kepada siapa saja yang telah menzalimi dan merampas hak-hak negeri ini, dan jika mereka tidak mau kembali kepada-Mu maka berikanlah petunjuk kepada mereka.

Ya Allah, kuatkanlah para pemimpin kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuntunlah mereka kepada kebaikan dan ketakwaan. Anugerahkan kepada mereka para pembantu dan penasihat yang saleh, yang menuntun kepada kebaikan dan membantu menegakkan kebenaran demi kebaikan negeri dan negara kami.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin yang tertindas dan terzalimi di berbagai belahan dunia, khususnya di negeri Palestina dan Republik Islam Iran. Berikanlah kepada mereka pertolongan, kemenangan, keamanan, dan hilangkanlah rasa takut serta kesedihan yang menimpa mereka.

Ya Allah, pertemukanlah kami kembali dengan bulan Ramadan di masa yang akan datang dengan umur yang panjang, kesehatan yang baik, dan kemampuan untuk mengisinya dengan amal saleh. Ampunilah dosa-dosa kami, rahmatilah kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Kita terus mendoakan saudara/i kita di penjuru dunia yang sedang diuji dengan kejahatan perang dan aniaya di bulan ramadhan ini, mereka yang gugur termaktub sebagai syahid, Isu Sunni-Syiah mencuat seiring terjadinya serangan masif yang terjadi pada negara Iran yang dilakukan oleh Yahudi Israil dan Sekutunya. Banyak dari kalangan umat Islam Indonesia yang justru tidak bersimpati dengan saudaranya sesama Muslim di Iran dikarenakan mereka dianggap golongan Syiah, Marilah idul fitri ini kita hapuskan sekat sektarianisme dalam tubuh umat Islam dan tidak menjadikannya penghalang dalam persatuan.

Semoga dengan kita saling memaafkan, kita mampu membangun kesejahteraan dan keberkahan dengan Tolak Terorisme, Radikalisme, Hoax dan segala sesuatu yang dapat memecahkan persatuan kita, sehingga negeri dan negara kita ini menjadi dambaan yang senantiasa diberkahi Allah sehingga terwujud بلدة طيبة ورب غفور ”Bersihkan Hati Sucikan Pikiran di hari nan Fitri”Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H

من العائدين والفائزين فى كل عام وأنتم بخير

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



Khutbah Jumat

Masjid Laksamana Cheng Ho Kenali Asam Bawah Jambi:

Jaga Lisan dari Komentar Negatif

Khatib : Ust Dr H Hasbullah Ahmad, MA

(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi)

DOWNLOAD PDF DISINI!

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari bersama-sama kita menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, sebab Iman dan takwa yang kita miliki ini merupakan anugerah yang tidak semua umat manusia memilikinya. Kita harus bersyukur, walaupun terpaut jarak yang jauh dan beda zaman dengan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah ilahiyah, namun kita dianugerahkan kesempatan hidup dalam Islam, sebagai agama samawi pamungkas yang sempurna dan agama yang diridhoi oleh Allah swt. Hal ini ditegaskan dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 3:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ  

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu”

Jama’ah Jumat yang berbahagia,

Bangsa Indonesia saat ini masih berada dalam suasana duka. Bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Sumatera telah merenggut lebih dari 900 nyawa, dan lebih dari 200 orang masih dinyatakan hilang. Dalam situasi ini, banyak masyarakat yang saling bahu-membahu membantu para korban melalui penggalangan donasi maupun turun langsung ke lapangan.

Namun demikian, masih saja kita temukan komentar-komentar negatif yang mengaitkan musibah ini dengan azab, dosa, atau ucapan lain yang dapat melukai perasaan para korban.

Perlu kita pahami bersama bahwa tidak semua bencana dapat langsung dikaitkan dengan azab. Ada kalanya bencana merupakan ujian dari Allah SWT untuk mengukur kualitas hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar”. (Qs. Al-Baqarah: 155).

Pada surat Al-Baqarah ayat 155 ini, Allah menegaskan akan memberikan cobaan kepada setiap umat Islam sebagai ujian di dunia. Cobaan tersebut bisa berupa kekhawatiran, kelaparan, kurangnya harta, kematian kerabat ataupun yang lainnya.

Jama’ah Jumat Rahimakumullah.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil Azhim juz 1 hal 338 berkata:

بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ أَيْ بِقَلِيلٍ مِنْ ذَلِكَ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوالِ أَيْ ذَهَابُ بَعْضِهَا وَالْأَنْفُسِ كَمَوْتِ الْأَصْحَابِ وَالْأَقَارِبِ وَالْأَحْبَابِ وَالثَّمَراتِ أَيْ لَا تُغِلُّ الحدائق والمزارع كعادتها  

“(Kami pasti akan menguji kalian) dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta dengan hilangnya sebagian harta, hilangnya nyawa seperti meninggalnya sahabat, kerabat ataupun orang yang dicinta serta ujian dari panen buah-buahan dari perkebunan dan pertanian yang tidak menghasilkan seperti biasanya”.

Dari penjelasan Ibnu Katsir di atas, dapat dipahami bahwa, umat manusia tidak dapat melepaskan diri dari ujian yang diberikan Allah. Baik itu ujian yang menimpa diri sendiri, kerabat ataupun sesama umat Islam.

Umat Islam juga diperintahkan untuk selalu membantu dan menolong sesama, terutama kepada mereka yang sedang ditimpa musibah. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

"Dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang meringankan satu beban dari seorang mukmin maka Allah akan meringankan bebannya di hari kiamat, dan barangsiapa membantu orang mukmin yang sedang kesusahan maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat".(HR. Muslim)  

Jamaah Jumat Rahimani wa Rahimakumullah,

Di sisi lain, mengucapkan komentar-komentar negatif terhadap korban bencana termasuk ke dalam ujaran kebencian yang sangat dilarang dalam Islam. Hal tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak diperkenankan bagi umat Islam untuk mengolok-olok satu sama lain, sebab boleh jadi yang diolok-olok lebih baik derajatnya di sisi Allah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim." (Qs. Al-Hujurat: 11)

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya Marah Labid juz II hal 438 menjelaskan bahwa ayat di atas turun untuk menegur beberapa kelompok atau individu pada masa kenabian yang suka menghina dan mencaci maki orang lain dengan sebutan yang buruk. Ayat ini juga merupakan penegasan dari Allah SWT kepada umat manusia agar tidak saling menghina satu sama lain.

Syekh Nawawi al Bantani menjelaskan bahwa kandungan surat Al-Hujurat ayat 11 ini mengajak umat manusia agar menjaga lisannya dalam berucap sesuatu kepada orang lain. Syekh Nawawi berkata dalam tafsirnya:

وَمَعْنَى الْآيَةِ: لَا تَحْتَقِرُوْا إِخْوَانَكُمْ وَلَا تَسْتَصْغِرُوْهُمْ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ تَعْلِيْلٌ لِلنَّهْيِ، أَيْ عَسَى أَنْ يَكُوْنَ الْمَسْخُوْرُ مِنْهُمْ خَيْرًا عِنْدَ الله تَعَالَى مِنَ السَّاخِرِيْنَ، وَلَا نِساءٌ مِنْ نِساءٍ  

“Kandungan ayat di atas memiliki makna: Janganlah kalian menghina dan mengerdilkan saudara-saudara kalian sebab boleh jadi mereka yang dihina lebih baik di sisi Allah daripada yang menghina. Hal ini berlaku juga bagi kaum perempuan.”  

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT, 

Ajaran Islam tidak hanya melarang kita merendahkan dan menyakiti saudara kita dengan ucapan, tetapi justru mendorong kita untuk meringankan beban mereka, apalagi ketika mereka sedang tertimpa musibah. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan adalah empati, doa, dan bantuan nyata, bukan komentar yang melukai.  

Bahkan Allah mengingatkan dalam firman-Nya agar kita tidak meremehkan saudara kita, karena boleh jadi mereka jauh lebih mulia di sisi-Nya. Rasulullah SAW pun menegaskan keutamaan besar bagi siapa saja yang berusaha menghilangkan kesulitan saudaranya.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمَاً سَتَرَهُ اللهُ فِيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang meringankan satu kesulitan seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan meringankan baginya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim).

 

Jama’ah Jumat Hadaniallahu Li wa Lakum..

Demikian khutbah Jumat ini khatib sampaikan. Sebagai penutup, khatib mengingatkan bahwa bangsa serta negeri kita adalah bangsa dan negeri yang berbudi luhur. Karena itu, marilah kita menjaga lisan kita dari komentar-komentar negatif terhadap saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana. Mari pula kita bantu mereka, setidaknya dengan mengirimkan doa-doa terbaik agar keadaan mereka segera membaik. Amin Ya Rabb..

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

 


Khutbah Jumat

Masjid Nurul Islam Kebun Daging Kota Jambi

Bencana sebagai Alarm Peringatan dari Alam

Khatib : Ust Dr H Hasbullah Ahmad, MA

(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi)

DOWNLOAD FILE PDF DISINI!

 

اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا نِعَمًا، وَأَظْهَرَ فِي الْكَوْنِ آيَاتٍ تُذَكِّرُنَا حِكَمًا، وَبَسَطَ لَنَا فِي الْأَرْضِ خَيْرًا نَجْنِيهِ فَهْمًا، وَنَبَّهَنَا إِلَى مَا نُحْدِثُهُ فِيهَا رَشَدًا وَاهْتِمَامًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا وَوَعْيًا وَالْتِزَامًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي هَدَانَا نُورًا وَرَحْمَةً وَسَلَامًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالَى ، وَقَدْ قَالَ:وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah Swt, Tuhan yang senantiasa mencurahkan karunia kepada kita tanpa henti. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang menunjukkan kita jalan kebenaran dengan akhlak yang lembut dan ajaran yang berkah, juga kepada keluarganya para sahabat, dan seluruh umat Islam yang meneladani sunnah-sunnahnya hingga hari akhir.  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Marilah kita menguatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan memperbanyak amal yang diridhai dan menjaukan diri dari setiap larangan-Nya. Karena setiap tingkah laku kita akan diketahui dan dicatat oleh-Nya. Sebagaimana firman Allah Swt yang terkandung dalam surat Al-Maidah ayat 8:

وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ  

Artinya: “Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, 

Jika kita menengok keadaan alam saat ini, khususnya di Indonesia, maka kita akan melihat begitu banyak perubahan yang mengkhawatirkan. Sungai yang dulu jernih kini keruh dan tercemar oleh limbah serta sampah. Udara yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru dipenuhi asap dan polusi. Hutan yang dahulu rimbun, tempat berbagai makhluk hidup dengan ekosistemnya, kini banyak yang hilang akibat pembabatan penggundulan hutan tanpa reboisasi.   

Semua kerusakan itu, terjadi karena ulah kita sebagai umat manusia yang enggan merawat alam. Yakni, ketika kita lebih mementingkan keuntungan sesaat daripada kelestarian, ketika keserakahan mengalahkan kepedulian, dan ketika hawa nafsu lebih kuat daripada tanggung jawab.   

Allah Swt telah mengingatkan kita dengan sangat jelas nan tegas bahwa kerusakan yang tampak di darat maupun di laut bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja  tetapi akibat ulah kita sebagai manusia, agar kita sadar, kembali, dan memperbaiki diri. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Rum ayat 41:

   ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ  

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Al-Baidhawi dalam Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, jilid 4, halaman 208 menjelaskan, makna fasad yang berarti kerusakan pada QS. Ar-Rum ayat 41 tersebut, sebagai berbagai bencana alam yang tampak di darat dan laut, karena ulah manusia.

  ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ كَالْجَدْبِ وَالْمَوْتَانِ وَكَثْرَةِ الْحَرْقِ وَالْغَرَقِ وَإِخْفَاقِ الْغَاصَّةِ وَمَحْقِ الْبَرَكَاتِ وَكَثْرَةِ الْمَضَارِّ، أَوِ الضَّلَالَةِ وَالظُّلْمِ وَقِيلَ الْمُرَادُ بِالْبَحْرِ قُرَى السَّوَاحِلِ، وَقُرِئَ: وَالْبُحُورِ. بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ بِشُؤْمِ مَعَاصِيْهِمْ أَوْ بِكَسْبِهِمْ إِيَّاهُ  

Artinya: “(Kerusakan di darat dan di laut) itu tampak dalam bentuk kekeringan, kematian, banyaknya kebakaran dan tenggelam (banjir atau tsunami), gagalnya usaha, hilangnya keberkahan, meningkatnya mudarat (kesialan), atau berupa kesesatan dan kezaliman. Dan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laut adalah desa-desa pesisir, dan terdapat pula qira’ah dengan lafaz al-buhur. (Semua itu) disebabkan oleh apa yang diperbuat tangan manusia yakni karena buruknya dampak maksiat mereka atau karena perbuatan mereka sendiri.”  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, Fenomena alam yang kita saksikan hari ini, menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang nyata. Banjir datang lebih sering, suhu udara sekitar pemukiman menjadi tidak stabil dan cenderung panas, hutan terus menyusut, dan polusi ada di mana-mana. Semua ini bukan terjadi tanpa sebab, melainkan akibat dari ulah kita sebagai manusia tamak yang mengabaikan keseimbangan dan melampaui batas yang Allah tetapkan bagi bumi.   Bencana yang terjadi seakan mengajak kita untuk merenung, melihat kembali cara kita memperlakukan bumi, dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat. Allah menegaskan dalam QS. Asy-Syura ayat 30:

   وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ  

Artinya: “Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu).”  

Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, jilid 25, halaman 72 menegaskan, musibah atau bencana yang menimpa manusia tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi memiliki keterkaitan dengan perbuatan manusia. Ia menjelaskan bahwa berbagai bencana dan keadaan yang tidak menyenangkan, seperti sakit, kekeringan, tenggelam, petir, gempa, dan semisalnya, sering kali muncul sebagai konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan kepada alam.  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, Kita memahami bahwa kerusakan alam dan bencana yang terjadi bukan sekadar peristiwa natural atau hanya takdir Tuhan semata, tetapi sangat terkait dengan perilaku kita yang mengabaikan kelestarian. Ketika keseimbangan alam dirusak, maka dampaknya akan kembali kepada manusia, sebagai pengingat agar kita memperbaiki sikap dan menghentikan kebiasaan yang merugikan lingkungan.  

Rasulullah Saw mengingatkan hal itu dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Abu Sa’id al-Khudri:

   إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللّٰهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ  

Artinya: “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sungguh, Allah menjadikan kalian sebagai pengelola (khalifah) di dalamnya untuk melihat bagaimana kalian beramal. Maka berhati-hatilah terhadap godaan dunia, dan berhati-hatilah terhadap godaan perempuan, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada urusan perempuan.” (HR. Muslim)  

Untuk itu, marilah kita jaga dan rawat alam ini dengan penuh kesadaran sebagai bagian dari ketakwaan kita kepada Allah Swt. Mari kita mulai dengan langkah-langkah kecil seperti mengurangi sampah, menjaga kebersihan lingkungan, menanam pohon, serta menghindari perbuatan yang merusak alam. Semoga Allah menjadikan kita menjadi hamba-Nya yang amanah dalam memelihara bumi dan menjauhkan kita dari musibah. Aamiin ya rabbal alamin.

  بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ  


Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Ollustrator. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget