***SELAMAT DATANG DI WEBSITE QUHAS SCHOOL YPT DAR AL-MASALEH JAMBI***
Latest Post


Belajar Spirit Berbagi, Berkorban dan Berjuang 
dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Khutbah Idul Adha 1445 H

Masjid Nurul Hidayah Jambi Timur Kota Jambi

DOWNLAOD PDF DISINI!

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهُ أكْبَرُ × 9 اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

الحَمْدُ لله الَّذِي أرْشَدَ الخَلْقَ إلى أكْملِ الاَدَابِ، وَفتَحَ لَهُمْ مِنْ خَزاَئِنِ رَحْمَتِهِ وَجُوْدِهِ كُلَّ باَبٍ، أنَارَ بَصَائِرَ المُؤْمِنِيْنَ فَأَدْرَكُوْا الحَقَائِقَ وَطَلَبُوْا الثَّوابِ، وَأعْمَى بَصَائرَ المُعْرِضِيْنَ عَنْ طاَعَتِهِ فَصَارَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ نُوْرِهِ حِجَابٌ، هُدَى أُوْلَئِكَ بِفَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ وَأَضَلَّ الآخَرِيْنَ بِعَدْلِهِ وَحِكْمَتِهِ، إِنَّ فيِ ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُوْلىِ الألبَابِ، وأشْهدُ أنْ لا إِله إِلاَّ الله وحده لا شريكَ له، له المَلِكُ الْعَزيزُ الوَهَّاب، وأشْهدُ أنَّ محمداً عبدُه ورسولهُ المبعوثُ بأجَلِّ العباداتِ وأَكمَلِ الآدابِ، صلَّى الله عليه وعلى جميع الالِ والأصْحَابِ، وعلى التابعين لَهم بإحْسَانٍ إلى يومَ المَآب أما بعد، أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَ يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورُ

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد

Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah

Pada pagi yang berbahagia ini, kita bertakbir menyebut Asma Allah. Takbir mengagungkan Asma’ Allah dengan membuang sifat kesombongan yang melekat pada diri kita. Takbir yang mengingatkan kita kembali untuk meneladani perjuangan dan ketabahan nabi Ibrahim as yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an. Sejarah rasul yang berjuluk kekasih Allah (خَلِيْلُ الله) dan juga Bapaknya Para Nabi (أبو الأنبياء) ini, ditulis dengan tinta emas di dalam buku-buku sejarah. Sikap tabah dan teguhnya dalam menjalankan perintah Allah, telah menjadikan nabi Ibrahim as sebagai panutan umat sepanjang zaman. Pernyataan adanya keteladanan Nabiyullah Ibrahim as ini diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

 “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan-nya “ (QS. Al-Mumtahanah : 4) Sementara, tentang keharuman namanya sepanjang zaman, pun Allah telah menuturkan dalam firman-Nya,

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي اْلأَخِرِينَ

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (QS. As-Shafat : 108)

 

 

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد

Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah

Keteladanan yang dapat kita peroleh dari Nabi Ibrahim adalah keteguhan beliau dalam memegang prinsip, khususnya prinsip tauhid. Dalam menghadapi tantangan seberat apapun, termasuk saat dia berhadapan dengan ayahandanya Azar sendiri yang syirik, beliau sangat teguh. Kita perhatikan firman Allah dalam Q.S. at-Taubah: 114 berikut:

وَمَاكَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأَبِيهِ إِلاَّ عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ للهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

 

Dari ayat itu pula kita dapat informasi bahwa Nabi Ibrahim juga seorang yang lembut dan penyantun. Sikap keras dalam memegang prinsip tauhid, tidak lantas membuat sikap terhadap sesama manusia menjadi sedemikian keras dan kaku. Hubungan baik dengan sesama manusia tetap dijaga, karena pada hakekatnya seorang nabi, dan mungkin juga seorang ustadz atau pemimpin ummat saat ini adalah pelayan masyarakat yang harus punya sikap lemah lembut.

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد

Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah

Keteladanan lain dari Nabi Ibrahim as adalah pejuang sejati yang tidak mempunyai rasa putus asa jika menghadapi tantangan yang berat. Kegigihan dalam perjuangan ini perlu ditiru mengingat tantangan dakwah Islam akhir-akhir ini juga menghadapi tantangan jaman yang kian berat. dalam Qur’an Surah al-Anbiya: ayat 51 sampai 69 menyuguhkan kisah keteguhan Nabi Ibrahim bahkan saat berhadapan dengan kekuasaan sekalipun. Nabi Ibrahim as berprinsip, bahwa kebenaran adalah kebenaran yang tidak bisa ditawar-tawar. Hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan para pemimpin ummat kita sekarang yang mudah menjual kebenaran untuk ditukar dengan kekuasaan dan uang. Karena keteguhan Nabi Ibrahim as ini, kemudian Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari hukuman api yang membakar, seperti tergambar dalam Q.S. al-Anbiya: 69

قُلْنَا يَانَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

“Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد

Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah

Puncak keteladanan Nabi Ibrahim adalah kerelaan beliau mengorbankan apa saja untuk Allah SWT. Termasuk harus mengorbankan sang putra tercinta Nabi Ismail as. Allah SWT menggambarkan pengorbanan  Nabi Ibrahim as itu dalam sebuah dialog antara Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail yang terekam dalam Q.S. ash-Shaffat: 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَآءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

 

Walaupun kemudian di saat Nabi Ibrahim as sudah bersiap hendak menyembelih Nabi Ismail as, Allah SWT menggantinya dengan seekor hewan sembelihan, seperti diinformasikan dalam Q.S. ash-Shaffat: 107:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah.

Dalam konteks sekarang ini, pengorbanan Nabi Ibrahim as tersebut harus tetap kita apresiasikan. Dalam berbagai macam cara seperti menunaikan haji bagi yang mampu serta berkurban hewan ternak bagi umat Islam yang memiliki cukup kelebihan harta untuk melaksanakannya. Berkurban tidak sekedar mengalirkan darah binatang ternak, tidak hanya memotong hewan kurban, namun lebih dari itu, berkurban berarti ketundukan total terhadap semua perintah Allah swt & sikap menghindar dari hal-hal yang dilarang-Nya. Berkurban adalah berarti wujud ketaatan dan peribadatan seseorang, dan karenanya seluruh sisi kehidupan seseorang bisa menjadi manifestasi sikap berkurban.

 

Berkurban juga berarti upaya menyembelih hawa nafsu dan memotong kemauan syahwat yang selalu menyuruh kepada kemungkaran dan kejahatan. Seandainya sikap menyembelih hawa nafsu ini dimiliki oleh umat Islam, Subhanallah, umat Islam akan maju dalam segalanya. Betapa tidak, bagi yang berprofesi sebagai guru, ia berkurban dengan ilmunya. Pengusaha ia berkurban dengan bisnisnya yang fair dan halal. Politisi ia berkurban demi kemaslahatan umum dan bukan kelompoknya. Pemimpin ia berkurban untuk kemajuan rakyat dan bangsanya bukan untuk pribadinya dan begitu seterusnya.

 

Semangat pengorbanan Nabi Ibrahim as perlu kita kobarkan kembali. Sebuah semangat mengorbankan ego untuk mengedepankan loyalitas keummatan. Kita gambarkan semangat pengorbanan itu dengan menyembelih hewan kurban pada hari Idul Adha ini, sebagai simbol kecintaan kita kepada millah Ibrahim yang hanif. Hanya saja yang perlu kita ingat, bahwa menyembelih hewan kurban bukanlah pengorbanan yang sesungguhnya yang dikehendaki Allah. Dengan semangat ini, bentuk-bentuk kejahatan akan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan di bumi pertiwi ini. Ini tercermin dalam firman-Nya Q.S al-Hajj: 37

لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَدِمَآؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah.

Sebuah Kisah Inspiratif, yang bisa menyentuh hati kita... seorang tukang ojek berpenghasilan pas-pasan rela berkorban dengan kambing Otawa yang terbaik disetiap tahunnya, ketika ditanyakan perihal itu, dengan haru dia menjawab ”Untung Allah SWT hanya menyuruh saya mengorbankan kambing, saya tidak sekuat nabi Ibrahim as yang rela mengurbankan anaknya untuk Allah SWT, dan saya tidak kuat kalau anak saya yang dikurbankan” SubhanaLLAH, dan dengan berbagi melalui Ibadah Qurban juga akan memberikan kegembiraan, kebahagiaan dan kesenangan bagi saudara-saudara kita yang tidak mampu, Rasanya miris hati kita ketika saudara kita sesama muslim tertimpa musibah, banyak diantara mereka kehilangan orang tercinta dan harta-harta mereka. seperti mirisnya hati kita ketika melihat fenomena dua anak yang berbeda latar belakang, yang satu anak yang kaya lengkap dengan berbagai kemewahan, ketika hari raya tiba mereka dengan semangat menyampaikan kepada kedua orang tua mereka ”Pa... Adek mau makan daging”, si ayahpun dengan tegas menjawab ”nanti ayah belikan daging yang paling okay” terus kembali lagi meminta kepada ibundanya ”ma... belikan adek baju baru dong” si ibupun menjawab dengan lugas ”ya pasti mama belikan yang paling bagus”... dan banyak lagi permintaan lain yang dipintanya semua terkabulkan karena kemewahan dan kekayaan yang mereka miliki.

 

Sementara disisi lain seorang anak yatim piatu tanpa ayah dan ibu, ayah dan ibunya meninggal karena Musibah ketika hari raya tiba mereka hanya bisa menghadiri pusara ayah dan ibunya dengan semangat sambil membacakan al Fatihah sebagai dedikasi cinta kepada kedua orang tuanya, sembari mengucapkan diatas pusara ayahnya : ”Yah... kawan-kawan sekarang lagi asik dengan lebaran, makan sate daging, pizza dan lain-lain maukan ayah belikan adek juga... yang diterima hanyalah tiupan angin sepoi-sepoi, lalu berlanjut ke pusara ibundanya sambil bergumam: ”mak... baju adek sudah jelek mak, maukan mak belikan adek baju baru, kawan-kawan adek pake baju baru semua” tiada sedikitpun jawaban yang diterima namun si-anak tetap bahagia walau hampa tanpa jawaban. SubhanaLLAH wa AstaghfiruLLAH.

 

Maka melalui Ibadah Qurban yang kita bagikan, Zakat Mal, Infaq, Shadaqah dan bantuan yang telah kita tunaikan bisa menjadi penyambung silaturahim dan perwujudan nilai kepekaan bagi diri kita dalam kehidupan bermasyarakat untuk dapat memahami bagaimana susahnya anak yatim, fakir dan miskin dan orang yang tertimpa musibah melawan jalan kehidupan yang penuh duri ini.

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah

Namun apa yang kita saksikan dewasa ini. Jiwa pengorbanan pada banyak kalangan telah digeser oleh semangat atau nafsu mengorbankan orang lain. Perhatikan saja kemelut di layar kaca dirumah kita, Perang terbuka di  media massa, baik itu korupsi, tuduh menuduh, kemaksiatan dan juga Berbagai Ujian, serta krisis ekonomi Naudzubillah. Semua dikarenakan Ulah tangan dan kelalaian manusia, semoga semua itu membuat kita sadar untuk segera bertaubat dan kembali ke Jalan Allah SWT. Firman Allah dalam QS al-Ruum 41 :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

 

Kini Allah SWT memanggil kita, menuntut ketaatan total kita kepada-Nya. Ketaatan itu menuntut kita untuk berkorban; mengorbankan apa saja yang kita miliki demi menggapai ridha-Nya. Hanya dengan pengorbanan demi ketaatan itulah, kita akan meraih kembali kemuliaan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat. Ingatlah, wahai kaum Muslim, bahwa untuk itulah Nabi bersumpah tidak akan pernah mundur walau selangkah, sampai Islam menang atau baginda saw binasa:

وَاَللّهِ لَوْ وَضَعُوا الشّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ حَتّى يُظْهِرَهُ اللّهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ

”Demi Allah, andai saja mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, (lalu mereka minta) agar aku meninggalkan urusan (agama) ini, maka demi Allah, sampai urusan (agama) itu dimenangkan oleh Allah, atau aku binasa di jalannya, aku tetap tidak akan meninggalkannya.” (Hr. Ibn Hisyam)

 

Jama’ah Idul Adha yang dirahmati Allah.

Seseorang menjadi besar karena jiwanya besar. Tidak ada jiwa besar tanpa jiwa yang punya semangat berkorban. Berkat  رُوْحُ البَذْلِ وَ التَّضْحِيَةِ وَالمُجَاهَدَةِ (ruhul badzli wal tadlhiyah wal mujahadah) atau spirit berbagi, berkorban dan berjuang, ummat ini telah menjadi ummat yang besar, bergengsi dan disegani dunia dalam sejarahnya. Mari Juga semangat Berqurban kita bersama mewujudkan dengan doa dan kerjasama dalam melahirkan pemimpin yang sejati, berakhlaq mulia, sabar dan berilmu, pemimpin yang mampu mendamaikan, mensejahterakan dan menyatukan Ummat, Pemimpin yang mampu memimpin bangsa dan maju terdepan juga dalam menyatukan kesempurnaan Agama.

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد

Hadirin jamaah Idul Adha rahimakumullah

Kita berdoa yang terbaik untuk saudara kita di Palestina yang sedang di aniaya oleh Yahudi Zionis dan sekutunya, karena mereka adalah saudara seiman kita, karena tanah air mereka adalah tempat suci milik umat Islam. Dan juga karena Yahudi Zionis Israel adalah penjajah dan kaum yang dilaknat oleh Allah SWT maka mari kita bantu kaum muslimin di Palestina dengan harta, tenaga, waktu, dan tentu saja doa kita kepada Allah SWT. Mari terus suarakan kebenaran dengan cara yang baik untuk melawan propaganda dan kebohongan yang dibuat oleh Yahudi Zionis serta para penjajah dan pendukungnya

 

Dan juga Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk mengabdi dan beribadah kepada NYA secara total sebagai wujud refleksi terhadap pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihi Salam. serta mewujudkan JAMBI yaitu Jadikan al Qur’an Membangun Bangsa Indonesia Amin Allahumma Amin

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Ust Dr H Hasbullah Ahmad

Owner Yayasan Pesantren Terpadu Dar al-Masaleh Jambi

Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama

UIN Sutha Jambi

081366174429 eMail : hasbullah@uinjambi.ac.id

Website : www.quhasschooljambi.ac.id


 

الخطبة الثانية لعيد الأضحى

اللهُ أكْبَرُ ×  7اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ. أحمدُهُ على جليلِ الصِّفَاتِ وَجَمِيْلِ الإِنْعَامِ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرَ مَنْ طَلَبَ المَزِيْدَ وَرَام، وأشهد أن لا إله إلاَّ الله الَّذِي لاَ تُحِيْطُ بِهِ العُقُوْلُ وَالأَوْهَامُ، وأشهد أنَّ محمداً عبدُه ورسولُه أفضَلُ الأَنَامِ، صَلَّى الله عليه وعلى سَائِرِ آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنِ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ عَلَى الدَّوَامِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا. أمّا بعد.

فيا عباد الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون وقال تعالى يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا  تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ و سلم و بَارِكْ عَلَى سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ و سلمت وبَارَكْتَ عَلَى سَيْدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيْدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فى العالمين إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مجيب الدعوات ياقاضي الحاجات وياكافي المهمات. اَللَّهُمَّ اجعل حجّ المسلمين جميعا حجا مبرورا و سعيهم سعيا مشكورا وذنبهم ذنبا مغفورا وعمرتهم عمرة مقبولا وزيارتهم زيارة مباركا وتجارتهم تجارتا لن تبورا. اللهم اعز الإسلام والمسلمين وازّل الشرك والمشركين وانصر عبادك الموحدين. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عباد الله... إنَّ اللهَ يأمرُ بالعَدْلِ والإحسانِ وإيتاءِ ذِي القربى وينهى عَنِ الفحشاءِ والمنكرِ والبَغي ، يعظُكُمْ لعلَّكُمْ تذَكَّرون. واذكر الله العظيم يذكركم وأسألوه من فضله يعطيكم ولذكر الله اكبر والله يعلم ماتصنعون

 


 Khutbah Jumat

Masjid Nurul Falah Purnama Jambi

Pentingnya Pendidikan Masa Perubahan Zaman

Ust Dr H Hasbullah Ahmad, MA

(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi).


 DOWNLOAD PDF DISINI!


اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ بِأَنْوَارِ الْوِفَاقِ، وَرَفَعَ قَدْرَ أَصْفِيَائِهِ فِيْ الْأَفَاقِ، وَطَيَّبَ أَسْرَارَ الْقَاصِدِيْنَ بِطِيْبِ ثَنَائِهِ فِيْ الدِّيْنِ وَفَاقَ، وَسَقَى أَرْبَابَ مُعَامَلَاتِهِ مِنْ لَذِيْذِ مُنَاجَتِهِ شَرَابًا عَذْبَ الْمَذَاقِ، فَأَقْبَلُوْا لِطَلَبِ مَرَاضِيْهِ عَلَى أَقْدَامِ السِّبَاقِ. فَسُبْحَانَ مَنْ أَيْقَظَ الْأَبْرَارَ، وَحَثَّ مَطَايَا شَوْقِهِمْ اِلَى دَارِ الْقَرَارِ، وَاسْتَنْهَضَ عَزَائِمَهُمْ اِلىَ الْمُسَارَعَةِ وَالْبِدَارِ

أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً صَفَا مَوْرِدُهَا وَرَاقَ، نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاَةَ مِنْ نَارٍ شَدِيْدَةِ الْاِحْرَاقِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَشْرَفُ الْخَلْقِ عَلَى الْاِطْلَاقِ، اَلَّذِيْ أُسْرِيَ بِهِ عَلَى الْبُرَاقِ، حَتَّى جَاوَزَ السَّبْعَ الطِّبَاقِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ السَّبَاقِ، صَلَاةً وَسَلَامًا اِلَى يَوْمِ التَّلَاقِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْانِ: فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah

Mari kita awali khutbah Jumat tgl 15 Zulkaidah 1445 H ini dengan ungkapan syukur kepada Allah swt, dengan senantiasa melafalkan kalimat al-hamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmus shalihât, Semoga kita semua yang hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaatnya. Amin ya rabbal âlamin.

Selanjutnya, sudah menjadi keharusan bagi kami selaku khatib untuk senantiasa mengajak kepada diri kami pribadi, keluarga dan semua jamaah yang hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, yaitu dengan cara mengerjakan semua kewajiban, menunaikan semua tanggung jawab, dan meninggalkan semua yang dilarang. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

 وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah

Salah satu hal penting yang harus kita perhatikan saat ini adalah betapa pentingnya pendidikan bagi setiap individu. Pendidikan menjadi hal yang sangat penting dalam membangun suatu negara. Pendidikan merupakan fondasi utama dalam menciptakan sumber daya manusia khususnya para generasi muda dan masyarakat yang cerdas, kritis, dan berkembang. Pendidikan yang berkualitas akan menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan kompeten.

Melalui pendidikan pula, setiap orang dapat mengembangkan potensi dan bakatnya secara maksimal. Sehingga hal ini bisa membantu mereka mencapai impian dan tujuan hidupnya masing-masing, serta akan memberikan kontribusi positif kepada orang lain.

Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya penting di zaman modern saat ini saja. Bahkan hal ini sudah diterapkan pada masa Rasulullah saw. Mari kita semua merenungi salah satu kisah luar biasa perihal urgensi pendidikan di masa Nabi Muhammad. Dalam kisahnya, ketika pasukan umat Islam sudah mulai kuat pada masa itu. Mereka lebih semangat untuk ikut berperang melawan orang-orang yang menentang ajaran Islam. Tujuannya tidak lain adalah menjaga dakwah Islam terus berlanjut. Namun sayangnya, semangat perang pada masa itu justru memberikan celah hilangnya semangat belajar, bahkan Rasulullah ditinggal sendiri di Madinah.

Sehingga tidak ada seorang pun yang belajar dan mengaji kepada beliau. Akibat dari kejadian ini, Allah swt kemudian menurunkan ayat Al-Qur’an, yang menjelaskan bahwa tidak semua umat Islam harus berangkat perang. Tetapi harus ada pembagian tugas. Sebagian berangkat ke medan perang dan sebagian yang lain harus menuntut ilmu dan mendalami agama Islam. Hal ini agar ajaran-ajaran agama dapat diajarkan secara merata. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS At-Taubah, [9]: 122).

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah

Itulah pentingnya pendidikan yang harus kita ketahui bersama. Bahkan di saat yang mendesak sekalipun, yaitu kondisi perang, di mana umat Islam harus menjaga agamanya agar tetap tegak, pendidikan tetap harus dilaksanakan dan tidak boleh ditinggalkan. Tujuannya tidak lain, agar keberlangsungan hidup yang benar sesuai dengan tuntunan agama bisa terus berjalan.

Tidak hanya itu, kita perlu memahami bahwa salah satu tujuan diutusnya para rasul oleh Allah swt adalah untuk menyampaikan dan mengajarkan tentang urgensi pendidikan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadaMu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadaMu Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah, [2]: 151).

Selain ayat di atas, juga disebutkan dalam beberapa hadits, bahwa diutusnya Rasulullah saw hanya untuk mendidik/mengajar. Hal ini tentu untuk kembali menegaskan bahwa pendidikan benar-benar penting. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِى مُعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِى مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk mempersulit orang lain, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik (pengajar) yang memberi kemudahan.” (HR Muslim).

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan keberkahan dan kebaikan dalam perjalanan hidup kita dengan menguatkan karakter dengan pendidikan yang maksimal, baik itu pendidikan dirumah, sekolah dan lingkungan sebab ketiga komponen ini harus bersinergi diperkuat pula dengan hadirnya pemerintah yang mendukung dalam mananamkan nilai nilai etika positif dengan akhlaq al karimah menuju Jambi dan Indonesia yang berkah. Demikian khutbah Jumat perihal pentingnya pendidikan, khususnya di masa modern saat ini di mana perubahan-perubahan dinamika kehidupan bergerak sangat cepat. Pendidikan akan menjadi pembimbing bagi generasi muda dan semua manusia secara umum, untuk terus menjalani hidup dengan benar, sesuai dengan tuntunan agama. Dan kita juga mendoakan saudara kita jama’ah haji mendapat haji maqbul dan mabrur. Amin Ya Rabb…

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 



Khutbah Jumat

Masjid al Minnah Kota Baru Jambi

Pergeseran Nilai dalam Kehidupan Modern

Ust Dr H Hasbullah Ahmad, MA

(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi).


 DOWNLOAD PDF DISINI!


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَ. اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَاماً دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ  فيا ايها الناس اتقوالله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah.

Di hari Jumat yang penuh berkah ini, tepat pada tanggal 9 Zulkaidah 1445 H kita sebagai Umat Islam, harus senantiasa mewujudkan rasa syukur dengan terus memperkuat ketakwaan kepada Allah swt dengan meneguhkan komitmen untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Takwa seperti rambu-rambu jalan raya yang mengarahkan kita untuk berada pada jalur benar sehingga sampai tujuan dengan selamat.   

Terlebih di era perkembangan zaman yang modern dan sangat cepat saat ini, berbagai hambatan dan gangguan sering muncul dalam kehidupan dan mampu menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan. Dengan takwa sebagai bekal perjalanan, maka Insyaallah kita akan senantiasa dalam lindungan Allah swt.    Dalam QS Al-Baqarah ayat 197 disebutkan:

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ  

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah.

Perubahan zaman yang cepat saat ini di satu sisi menjadikan kehidupan manusia semakin mudah, imbas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun di sisi lain, dampak negatif sudah mulai dirasakan dan perlu kita renungi serta dicarikan Solusi atau jalan keluar agar tidak menjadikannya kebiasaan buruk dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat.  

beberapa khatib paparkan perubahan nilai di tengah masyarakat-masyarakat modern yang patut kita renungi bersama.

Pertama, gelar dan ijazah semakin tinggi namun tak menggambarkan kualitas diri. Mulai terlihat orang-orang yang mementingkan gelar dan ijazah dari ilmu yang bermanfaat dan keberkahan. Dalam tataran praktiknya, ilmu yang dipelajari tidak berbanding lurus dengan kompetensi, kualitas, dan prilaku hidup sehari-hari. Padahal sejatinya, sekolah, kuliah, dan berbagai cara mencari ilmu adalah pekerjaan yang luhur jika orientasinya bukan untuk kepentingan duniawi semata.   

Kedua, alat masyarakat semakin canggih tapi penyakit semakin bermacam-macam. Kesehatan serta kekuatan tubuh manusia saat ini semakin rendah. Saat ini dengan mudah kita jumpai alat-alat canggih dalam bidang masyarakat namun kekuatan tubuh manusia semakin rentan terhadap penyakit. Jika orang tua kita dulu masih bisa ke kebun dan ke sawah di usia 80 tahunan, saat ini jarang ditemukan orang tua pada umuran tersebut melakukan aktivitas berat. Bisa jadi ini akibat pola asya dan berbagai jenis makanan modern yang dikonsumsi saat ini.  

Ketiga, sering pergi kemana-mana tapi tak kenal tetangga. Fakta sosial ini masyarakat temukan di masyarakat, khususnya di masyarakat perkotaan. Bagaimana sikap individualis masyarakat modern saat ini muncul ditandai dengan menurunnya kepekaan sosial pada lingkungannya.

Budaya gotong royong seperti kerja bakti, berkumpul dan bersosialisasi dengan lingkungan sudah mulai berkurang. Padahal jika terjadi sesuatu hal, maka tetanggalah yang menjadi orang terdekat yang dimintai bantuan. Semua patut menjadi renungan kita bersama.  

Ma’asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah.

Keempat, rata-rata penghasilan semakin tinggi tapi ketentraman hati dan jiwa semakin berkurang. Seiring perkembangan zaman, berbagai macam peluang pekerjaan bermunculan. Kondisi ini menjadikan masyarakat mudah memilih pekerjaan sesuai dengan keinginannya dan kecenderungan penghasilan masyarakat saat ini lebih tinggi dari sebelumnya.

Namun jika tidak dilandasi dengan kepedulian sosial, rasa syukur dan senantiasa ingat kepada Allah, kegersangan hati akan muncul. Kondisi ini akan berdampak negatif bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Ar-Ra’du ayat 28:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ   

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”  

Kelima, semakin banyak teman di dunia maya tapi tidak punya sahabat di dunia nyata. Alangkah mudahnya saat ini berteman di media sosial. Cukup dengan ‘klik’ saja kita bisa mendapatkan banyak teman. Namun keasyikan bermedia sosial dengan teman banyak ternyata berpengaruh pada kurangnya bersosialisasi di dunia nyata sehingga masyarakat kini tidak memiliki sahabat banyak di dunia nyata. Ada istilah “Yang jauh didekatkan dan yang dekat dijauhkan” akibat asik bermedia sosial.   

Kemudahan komunikasi juga menjadikan kita dengan mudah mengatur waktu untuk bertemu dengan orang lain. Namun saat bertemu, tidak jarang kita malah sibuk bermain HP sendiri dan tidak mempedulikan orang di sekitar kita.

Dampak lain dari perkembangan di era saat ini adalah teknologi informasi semakin canggih namun fitnah dan hoaks juga semakin merajalela. Sehingga kita perlu hati-hati dan waspada saat menerima berita atau informasi apapun di media sosial. Kita harus melakukan tabayun, klarifikisasi, atau dengan seksama mengecek kebenaran dari informasi yang diterima.   Allah swt telah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ   

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”  

Terakhir, ilmu semakin tersebar tapi adab dan akhlak semakin pudar. Ada pergeseran nilai saat ini di mana ilmu tidak lagi meresap di dalam hati namun hanya sebatas diingat dalam otak. Sehingga dengan mudah kita bisa mendapatkan ilmu namun akhlak dan adab semakin pudar. Naudzu billah.

Kejadian generasi muda yang kurang akhlaknya melakukan berbagai macam jenis tindakan tidak bermoral menjadi contoh rapuhnya pendidikan moral di era saat ini.  

Fakta juga bisa ditemukan bagaimana saat ini kita bisa belajar ilmu apapun dengan mudah namun penghormatan kepada guru semakin berkurang. Guru sebagai penyambung ilmu dan nilai-nilai moral kurang dihargai dan sering menjadi kambing hitam dalam masalah pendidikan. Padahal guru menurut Rasulullah adalah posisi yang penuh dengan kebaikan dan Rasulullah juga merupakan seorang guru. 

كُلٌّ عَلَى خَيْرٍ هَؤُلَاءِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَدْعُونَ اللَّهَ فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ وَهَؤُلَاءِ يَتَعَلَّمُونَ وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا فَجَلَسَ مَعَهُمْ     

“Mereka semua berada dalam kebaikan. Kelompok pertama membaca Al-Qur'an dan berdoa kepada Allah, jika Allah berkehendak Dia akan memberi (apa yang diminta) mereka. Sementara kelompok yang kedua belajar mengajar, dan sesungguhnya aku diutus untuk menjadi guru.” (HR Ibnu Majah).  

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah.

Demikian beberapa renungan yang perlu kita sadari untuk kita hadapi dan kikis bersama agar tidak berubah menjadi tradisi negatif yang kemudian bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat.

Hidup boleh terus berubah tapi Tauhid, Syariah dan Akhlaq sebagai benteng harus terus kita sempurnakan, Semoga Allah senantiasa menurunkan hidayahnya kepada kita sehingga kita senantiasa memiliki budaya, tradisi, dan peradaban yang mulia. Amin Ya Rabb…

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم   

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Ollustrator. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget