***SELAMAT DATANG DI WEBSITE QUHAS SCHOOL YPT DAR AL-MASALEH JAMBI***
Latest Post

 



Khutbah Jumat

Masjid al Minnah Kota Baru Jambi

Pergeseran Nilai dalam Kehidupan Modern

Ust Dr H Hasbullah Ahmad, MA

(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi).


 DOWNLOAD PDF DISINI!


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَ. اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَاماً دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ  فيا ايها الناس اتقوالله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah.

Di hari Jumat yang penuh berkah ini, tepat pada tanggal 9 Zulkaidah 1445 H kita sebagai Umat Islam, harus senantiasa mewujudkan rasa syukur dengan terus memperkuat ketakwaan kepada Allah swt dengan meneguhkan komitmen untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Takwa seperti rambu-rambu jalan raya yang mengarahkan kita untuk berada pada jalur benar sehingga sampai tujuan dengan selamat.   

Terlebih di era perkembangan zaman yang modern dan sangat cepat saat ini, berbagai hambatan dan gangguan sering muncul dalam kehidupan dan mampu menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan. Dengan takwa sebagai bekal perjalanan, maka Insyaallah kita akan senantiasa dalam lindungan Allah swt.    Dalam QS Al-Baqarah ayat 197 disebutkan:

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ  

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah.

Perubahan zaman yang cepat saat ini di satu sisi menjadikan kehidupan manusia semakin mudah, imbas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun di sisi lain, dampak negatif sudah mulai dirasakan dan perlu kita renungi serta dicarikan Solusi atau jalan keluar agar tidak menjadikannya kebiasaan buruk dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat.  

beberapa khatib paparkan perubahan nilai di tengah masyarakat-masyarakat modern yang patut kita renungi bersama.

Pertama, gelar dan ijazah semakin tinggi namun tak menggambarkan kualitas diri. Mulai terlihat orang-orang yang mementingkan gelar dan ijazah dari ilmu yang bermanfaat dan keberkahan. Dalam tataran praktiknya, ilmu yang dipelajari tidak berbanding lurus dengan kompetensi, kualitas, dan prilaku hidup sehari-hari. Padahal sejatinya, sekolah, kuliah, dan berbagai cara mencari ilmu adalah pekerjaan yang luhur jika orientasinya bukan untuk kepentingan duniawi semata.   

Kedua, alat masyarakat semakin canggih tapi penyakit semakin bermacam-macam. Kesehatan serta kekuatan tubuh manusia saat ini semakin rendah. Saat ini dengan mudah kita jumpai alat-alat canggih dalam bidang masyarakat namun kekuatan tubuh manusia semakin rentan terhadap penyakit. Jika orang tua kita dulu masih bisa ke kebun dan ke sawah di usia 80 tahunan, saat ini jarang ditemukan orang tua pada umuran tersebut melakukan aktivitas berat. Bisa jadi ini akibat pola asya dan berbagai jenis makanan modern yang dikonsumsi saat ini.  

Ketiga, sering pergi kemana-mana tapi tak kenal tetangga. Fakta sosial ini masyarakat temukan di masyarakat, khususnya di masyarakat perkotaan. Bagaimana sikap individualis masyarakat modern saat ini muncul ditandai dengan menurunnya kepekaan sosial pada lingkungannya.

Budaya gotong royong seperti kerja bakti, berkumpul dan bersosialisasi dengan lingkungan sudah mulai berkurang. Padahal jika terjadi sesuatu hal, maka tetanggalah yang menjadi orang terdekat yang dimintai bantuan. Semua patut menjadi renungan kita bersama.  

Ma’asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah.

Keempat, rata-rata penghasilan semakin tinggi tapi ketentraman hati dan jiwa semakin berkurang. Seiring perkembangan zaman, berbagai macam peluang pekerjaan bermunculan. Kondisi ini menjadikan masyarakat mudah memilih pekerjaan sesuai dengan keinginannya dan kecenderungan penghasilan masyarakat saat ini lebih tinggi dari sebelumnya.

Namun jika tidak dilandasi dengan kepedulian sosial, rasa syukur dan senantiasa ingat kepada Allah, kegersangan hati akan muncul. Kondisi ini akan berdampak negatif bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Ar-Ra’du ayat 28:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ   

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”  

Kelima, semakin banyak teman di dunia maya tapi tidak punya sahabat di dunia nyata. Alangkah mudahnya saat ini berteman di media sosial. Cukup dengan ‘klik’ saja kita bisa mendapatkan banyak teman. Namun keasyikan bermedia sosial dengan teman banyak ternyata berpengaruh pada kurangnya bersosialisasi di dunia nyata sehingga masyarakat kini tidak memiliki sahabat banyak di dunia nyata. Ada istilah “Yang jauh didekatkan dan yang dekat dijauhkan” akibat asik bermedia sosial.   

Kemudahan komunikasi juga menjadikan kita dengan mudah mengatur waktu untuk bertemu dengan orang lain. Namun saat bertemu, tidak jarang kita malah sibuk bermain HP sendiri dan tidak mempedulikan orang di sekitar kita.

Dampak lain dari perkembangan di era saat ini adalah teknologi informasi semakin canggih namun fitnah dan hoaks juga semakin merajalela. Sehingga kita perlu hati-hati dan waspada saat menerima berita atau informasi apapun di media sosial. Kita harus melakukan tabayun, klarifikisasi, atau dengan seksama mengecek kebenaran dari informasi yang diterima.   Allah swt telah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ   

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”  

Terakhir, ilmu semakin tersebar tapi adab dan akhlak semakin pudar. Ada pergeseran nilai saat ini di mana ilmu tidak lagi meresap di dalam hati namun hanya sebatas diingat dalam otak. Sehingga dengan mudah kita bisa mendapatkan ilmu namun akhlak dan adab semakin pudar. Naudzu billah.

Kejadian generasi muda yang kurang akhlaknya melakukan berbagai macam jenis tindakan tidak bermoral menjadi contoh rapuhnya pendidikan moral di era saat ini.  

Fakta juga bisa ditemukan bagaimana saat ini kita bisa belajar ilmu apapun dengan mudah namun penghormatan kepada guru semakin berkurang. Guru sebagai penyambung ilmu dan nilai-nilai moral kurang dihargai dan sering menjadi kambing hitam dalam masalah pendidikan. Padahal guru menurut Rasulullah adalah posisi yang penuh dengan kebaikan dan Rasulullah juga merupakan seorang guru. 

كُلٌّ عَلَى خَيْرٍ هَؤُلَاءِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَدْعُونَ اللَّهَ فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ وَهَؤُلَاءِ يَتَعَلَّمُونَ وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا فَجَلَسَ مَعَهُمْ     

“Mereka semua berada dalam kebaikan. Kelompok pertama membaca Al-Qur'an dan berdoa kepada Allah, jika Allah berkehendak Dia akan memberi (apa yang diminta) mereka. Sementara kelompok yang kedua belajar mengajar, dan sesungguhnya aku diutus untuk menjadi guru.” (HR Ibnu Majah).  

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah.

Demikian beberapa renungan yang perlu kita sadari untuk kita hadapi dan kikis bersama agar tidak berubah menjadi tradisi negatif yang kemudian bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat.

Hidup boleh terus berubah tapi Tauhid, Syariah dan Akhlaq sebagai benteng harus terus kita sempurnakan, Semoga Allah senantiasa menurunkan hidayahnya kepada kita sehingga kita senantiasa memiliki budaya, tradisi, dan peradaban yang mulia. Amin Ya Rabb…

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم   

 




Khutbah Idul Fitri 1445 H

Masjid Chengho Kenali Asam Bawah Jambi

Harmonis dalam Ketaqwaan

Ust Dr H Hasbullah Ahmad, MA

(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi)

 

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×)

اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْكُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ. اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama'ah Sholat Aidul  Fithri rahimakumullah

Kalimat Allahu Akbar itu kita kumandangkan tidak saja sekarang – tetapi setiap saat- guna mengasah dan mengasuh jiwa kita, sehingga Allah Yang Maha Besar itu menjadi pangkalan tempat kita bertolak serta pelabuhan tempat kita bersauh. Kalimat-kalimat itu kita ucapkan di masa damai dan tenteram, serta kita suarakan pula saat-saat kritis dan bahaya yang mencekam.

 

Kalimat Takbir yang melambangkan keagungan dan kebesaran Allah itulah yang mempersatukan bangsa kita bahkan umat beragama di seluruh persada bumi. Karena, pada kandunganya terpancar aneka kesatuan, seperti kesatuan alam semesta, kesatuan dunia dan akhirat, kesatuan natural dan supranatural, kesatuan ilmu, kesatuan agama-agama samawi, kesatuan umat, kesatuan bangsa, kesatuan kemanusiaan, kesatuan kepribadian manusia, dan lain sebagainya.

 

Apabila makna Allah Akbar telah bersemai di dalam dada, maka akan lahir pribadi yang utuh, menyatu jiwa dengan raganya, menyatu bisikan hati dengan ucapannya, menyatu kata dan perbuatannya, juga menyatu langkah dan tujuannya. Kita akan menemukannya teguh dalam keyakinan, teguh tapi bijaksana, senantiasa bersih dan menarik walau miskin, selalu hemat dan sederhana walau kaya, murah hati dan murah tangan, tidak menghina dan tidak mengejek, tidak menghabiskan waktu dalam permainan, tidak menuntut yang bukan haknya, dan tidak menahan hak orang lain.

 

Ucapannya melipur lara dan membawa manfaat, diamnya pertanda tafakkur, dan pandangannya alamat i’tibar. Bila beruntung ia bersyukur, bila diuji ia bersabar, bila bersalah ia istighfar, kalau ditegur ia menyesal, dan kalau dimaki ia menjawab seraya berucap : “Bila makian Anda benar, maka semoga Allah mengampuniku dan bila keliru, maka kumohon Tuhan mengampunimu”.

 

Itulah semua merupakan salah satu sebab mengapa Allah memerintahkan kita bertakbir, antara lain setelah selesainya bilangan puasa Ramadhan, Firman Allah QS al Baqarah 185 :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakbir mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. 

 

Studi tafsir terkait dengan rujukan beridul fitr, mufassirin memakai ujung ayat tadi, yakni Setelah sempurna berpuasa, kita bertakbir mengagungkan asma Allah agar menjadi hamba-Nya yang bersyukur”.

 

Surat al-A’la 14-15 yang berbunyi Qad aflah man tazakka. Wa dzakar ism rabbih fa shalla” memperkuat referensi tersebut, malah nampak lebih teknis. Setelah puasa sebulan Ramadhan penuh, segera keluarkanlah zakat (qad aflah man tazakka), lalu bertakbiran menyebut asma Allah pada malam hari itu juga (wa dzakar ism rabbih), kemudian esoknya melakukan shalat Idul Fitr (fa shalla). Menurut perintah ini dicatat sebagai hamba Tuhan yang sangat beruntung (qad aflaha).

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ
Jama'ah Sholat Idul  Fithri rahimakumullah

Makna dan hakikat Idul Fithri pun seharusnya mengantar kita kepada persatuan dan kesatuan. Fithri yang terambil dari kata “fithrah” berarti agama yang benar, suci, dan asal kejadian. Jika kita memahami fithrah dalam arti agama, maka perlu diingat sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan الدّينُ المُعامَلة (Agama adalah interaksi harmonis). Semakin baik interaksi seseorang, semakin baik keberagamaannya. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat kita dapat berkata, “tidak mungkin satu masyarakat dapat maju dan berkembang tanpa jalinan yang harmonis antar anggotanya, jalinan yang menjadikan mereka bekerja sama, sehingga yang ringan sama dijinjing dan yang berat sama dipikul.

 

Semakin harmonis interaksi satu masyarakat, maka semakin banyak manfaat yang dapat mereka raih serta semakin berhasil mereka dalam perjuangannya. Semakin baik hubungan manusia dengan alam, semakin terpelihara alam dan semakin banyak pula rahasianya yang dapat diungkap dan dengan demikian semakin sejahtera kehidupan mereka. Namun, perlu diingat bahwa kemajuan satu bangsa tidak diukur dengan kekayaan alamnya tetapi dengan nilai-nilai yang mereka anut bersama dan yang menjalin hubungan harmonis mereka.

 

Ketika hubungan kita tercabik karena ego maka kegagalan akan mendekati kita, karena ketercabikan menguras tenaga dan fikiran, sehingga bukan saja mereka tidak dapat melangkah bersama tetapi tidak dapat melangkah maju sama sekali. Allah mengingatkan dalam QS al-Anfal 46 :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين َ

Janganlah kamu tarik-menarik (bertengkar memperebutkan keuntungan pribadi atau kelompok), karena itu menyebabkan kamu gagal dan hilang kekuatan kamu, (tetapi tabah) dan bersabarlah (menghadapi setiap persoalan). Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. 

 

Jika kita memahami Fithrah dalam arti suci, maka kesucian adalah gabungan yang menyatu di dalamnya, indah, benar, dan baik. Mengekspresikan keindahan melahirkan seni, menemukan kebenaran menghasilkan ilmu, dan memperagakan kebaikan membuahkan budi. Gabungan ketiganya jika direkat oleh nilai spiritual akan menghasilkan peradaban.

 

Dengan ber-’idul fithri seorang muslim menjadi seniman, ilmuan, sekaligus budiman. Dengan menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang dikandung dalam ‘Idul Fithri kita dapat membangun peradaban. Pakar berkata bahwa untuk mewujudkan peradaban diperlukan tiga unsur yang menyatu , yaitu manusia + tanah/wilayah + waktu. Wujud ketiganya saja belum berarti kecuali kalau tidak ada zat perekatnya yaitu agama atau nilai–nilai spiritual.

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ
Jama'ah Sholat Aidul  Fithri rahimakumullah

Maka Power Taqwalah yang menyatukan kita, karena taqwa bukan hanya kesuksesan individu tapi kemampuan dalam merajut nilai nilai sosial dalam kehidupan kita dalam mewujudkan kedamaian dan kesatuan Indonesia yang barakah. Maka kita terikat dengan satu ikatan yakni Ukhwah Wathaniyyah (persaudaraan sebangsa) walaupun beragam tapi tetap dengan satu tujuan yang mewujudkan kedamaian untuk semua dengan kekuatan al-Balad al Amin (negeri yang aman damai) dengan Taqwa yang telah kita raih melalui Puasa Ramadhan.

 

Idul Fitri tahun ini mestinya menjadi hal yang istimewa bagi umat Islam di Indonesia, sebab ia datang bertepatan dengan momentum pasca pemilu yang telah membuat masyarakat Indonesia terpolarisasi, terbelah menjadi beberapa bagian atau kubu saling berhadapan, idul fitri penuh berkah ini sengaja datang tidak lama setelah pemilu agar menjadi media atau fasilitator untuk mendamaikan kelompok yang sempat saling membenci, menghina hingga berkonflik karena perbedaan pilihan politik, maka momentum idul fitri dan saling memaafkan menjadi kekuatan dan tidak ada lagi kebencian, konflik namun yang hadir kerukunan dan kedamaian dengan sejuk dan indahnya Idul Fitri.

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ
Jama'ah Sholat Aidul  Fithri rahimakumullah

Dengan Ramadhan kita akan menjadi insan yang muttaqin, insan pasca Ramadhan, yang menjadi harapan setiap orang. Insan yang dalam hari raya ini menampakkan tiga hal sebagai pakaiannya: menahan diri dari hawa nafsu, memberi ma`af dan berbuat baik pada sesama manusia sebagaimana firman Allah dalam QS ali Imran 134:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

"…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

 

Maka Ramadhan Juga menanamkan pesan sosial dalam dalam hidup kita. Nabi Muhammad Mengajarkan kita bagaimana kepedulian harus kita wujudkan kepada siapapun, dalam kitab Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khubawi ada sebuah riwayat Di suatu hari raya Rasulullah SAW keluar rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Sementara anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan. Tetapi tampak seorang anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan mereka. Dengan pakaian sangat sederhana dan tampak murung, ia menangis tersedu. Melihat fenomena ini Rasulullah SAW segera menghampiri anak tersebut. “Nak, mengapa kau menangis? Kau tidak bermain bersama mereka?” Rasulullah membuka percakapan. Anak kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya adalah Rasulullah SAW menjawab, “Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah SAW dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Tetapi ia gugur dalam medan perang tersebut.”

 

Rasulullah SAW terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut. Sambil meraba ke mana ujung cerita, Rasulullah SAW mendengarkan dengan seksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak tersebut. “Ibuku menikah lagi. Ia memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri. Kini aku tak memiliki apapun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Aku bukan siapa-siapa. Tetapi hari ini, aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Untuk itulah aku menangis.”


Mendengar penuturan ini, batin Rasulullah SAW runtuh. Ternyata ada anak-anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang mengalami nasib malang begini.
Rasulullah SAW segera menguasai diri. Rasul yang duduk berhadapan dengan anak ini segera menggenggam lengannya. Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayah, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?” tanya Rasulullah.


Mendengar tawaran itu, anak ini mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. “Kenapa tak sudi ya Rasulullah?” jawab anak ini dengan senyum terbuka. Rasulullah SAW kemudian membawa anak angkatnya pulang ke rumah. Di sana anak ini diberikan pakaian terbaik. Ia dipersilakan makan hingga kenyang. Penampilannya diperhatikan lalu diberikan wangi-wangian.

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْد

Jama'ah Sholat Id al-Fithri rahimakumullah

Pesan sosial Ramadhan ini juga terlukiskan dalam Semangat zakat fitrah yang melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta`awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan, Semua orang pernah merasakan kenyang tapi tidak semua orang pernah merasakan lapar. Padahal Allah telah mengingatkan di dalam al Qur’an semua kita adalah sama dalam pandangan Allah dalam QS al Nahl 71 :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلرِّزۡقِۚ فَمَا ٱلَّذِينَ فُضِّلُواْ بِرَآدِّي رِزۡقِهِمۡ عَلَىٰ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَهُمۡ فِيهِ سَوَآءٌۚ أَفَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?

 

Jama’ah Sholat Id yang dirahmati Allah SWT

Rasanya akan terhiris hati kita ketika melihat kesenjangan sosial menjadi pembeda antara kaum kaya dan papa, seperti terhirisnya hati kita ketika melihat fenomena dua anak yang berbeda latar belakang, yang satu anak yang kaya lengkap dengan berbagai kemewahan, ketika hari raya tiba mereka dengan semangat menyampaikan kepada kedua orang tua mereka dan semua terkabulkan karena kemewahan dan kekayaan yang mereka miliki.

 

Sementara disisi lain seorang anak yatim piatu tanpa ayah dan ibu, ketika hari raya tiba mereka hanya bisa menghadiri pusara ayah dan ibunya dengan semangat sambil membacakan al Fatihah sebagai dedikasi cinta kepada kedua orang tuanya, sembari mengucapkan di atas pusara ayahnya : ” Yah... sepatu yang ayah belikan dulu sudah usang dan rusak, maukan ayah belikan adek sepatu baru... yang diterima hanyalah tiupan angin sepoi-sepoi, lalu berlanjut ke pusara ibundanya sambil bergumam : ”mak... baju adek sudah jelek mak, maukan mak belikan adek baju baru, kawan-kawan adek pake baju baru semua” tiada sedikitpun jawaban yang diterima namun sianak tetap bahagia walau hampa tanpa jawaban.

 

SubhanaLLAH wa AstaghfiruLLAH. Maka melalui zakat, Infaq dan Shadaqah yang telah kita tunaikan bisa menjadi penyambung silaturahim dan perwujudan nilai kepekaan bagi diri kita dalam kehidupan bermasyarakat untuk dapat memahami bagaimana susahnya fakir dan miskin melawan jalan kehidupan yang penuh duri ini. 

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama'ah Sholat Aidul  Fithri rahimakumullah

Akhirnya, marilah kita jadikan hari raya ‘Idul Fithri ini sebagai momentum untuk membina dan memperkukuh ikatan kesatuan dan persatuan kita, menyatupadukan hubungan kasih sayang antara kita semua, sebangsa dan setanah air. Saudaraku, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ini untuk anak cucu kita kedepan, Tantangan terbentang sangat besar di hadapan kita dan ancaman Allah pun menanti kita.

 

Ketika sementara orang pada masa Nabi Muhammad SAW. merasa sangat tersinggung dan sakit hati karena diperlakukan tidak wajar, dicemarkan nama baiknya, sehingga enggan memberi maaf, turun firman Allah menegur mereka :

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيم

Hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni kamu? (QS. An-Nûr [24]: 22).

 

Marilah dengan hati terbuka, dengan dada yang lapang, dan dengan muka yang jernih, serta dengan tangan terulurkan, kita saling maaf-memaafkan, sambil mengibarkan panji-panji persatuan dan kesatuan, bendera kedamaian dan As-salam, sambil berdoa:

اَللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَنَا بِالسَّلَامِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ . أَنْتَ رَبَّنَا ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Ya Allah Engkaulah Yang Maha Damai, dari-Mu bersumber kedamaian, kepada-Mu kembali kedamaian. Tuhan kami, hidupkanlah kami dengan penuh kedamaian dan masukkanlah kami kelak ke surga negeri yang penuh kedamaian. Engkau Pemelihara kami, lagi Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama'ah Sholat Aidul  Fithri rahimakumullah

Semoga dengan kita saling memaafkan, kita mampu membangun kesejahteraan dan keberkahan bagi NKRI dengan Tolak Radikalisme, Tolak Terorisme, Tolak Hoax, Tolak Ujaran kebencian dan segala sesuatu yang dapat memecahkan persatuan kita, sehingga negeri dan negara kita ini menjadi dambaan yang senantiasa diberkahi Allah sehingga terwujud بلدة طيبة ورب غفور dan kita dukung dan doakan pemimpin yang terpilih baik legislatif maupun presiden dan wakil presiden dirahmati dan diberkati Allah untuk menjalankan Amanah kepemimpinan 5 tahun ke depan dengan amanah, baik dan profesional. Amin Ya Rabb ”Bersihkan Hati Sucikan Pikiran di hari nan Fitri”Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H

من العائدين والفائزين فى كل عام وأنتم بخير

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Quhas School YPT Dar al-Masaleh Jambi

15 Ramadhan 1445 H/  Maret 2024.

 

Ust. Dr. H. Hasbullah Ahmad, MA.

Kunjungi Web : www.quhasschooljambi.sch.id


 

Khutbah II

Idul Fitri 1445

الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ المحشر. أَمَّا بَعْدُ: فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً اَمِنَةً مُطْمَئنَةً البَلَدُ الأَمِيْنُ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ ِنْدُوْنِيْسِيَّا خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيِنَ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَالَنَا فِي رَمَضَانَ عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ في كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيِنَ فَيَا عِبَادَ الله اِن الله يَأمُرُ بِالعَدْلِ وَالِاحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى القٌرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ الله أَكْبَرُ وَالله يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.


DOWNLOAD PDF DISINI!

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Ollustrator. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget