***SELAMAT DATANG DI WEBSITE QUHAS SCHOOL YPT DAR AL-MASALEH JAMBI***

PERAHU KERTAS Sebuah Cerpen Karya Niyatul Hasanah, S.Pd.


 # Perahu Kertas

Aku memulai hari dengan pagi yang sedikit mendung. Matahari tak tampak karena tertutup awan gelap. Namun, aku tetap bersemangat untuk bertemu dengan anak-anak yang begitu hebat. Pada hari itu, aku memulai pembelajaran seperti biasa.

Di dalam kelas, aku melihat anak-anak begitu bersemangat memulai hari mereka. Namun, perhatianku selalu tertuju pada seorang anak. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, ia bagaikan mencari jarum dalam jerami ketika merangkai kata. Begitu pula saat belajar Matematika, ia sering merasa bagaikan ayam kehilangan induknya. Ia bingung dan tidak tahu arah menghadapi angka-angka yang rumit. Bahkan, di lapangan saat olahraga, ia seperti kura-kura memanjat pohon, tampak lamban dan kaku.

Namun, setiap hari Kamis setelah shalat Zuhur, kelas kembali bersemangat karena pembelajaran SBdP (Seni Budaya dan Prakarya) akan dimulai. Berbeda dengan pelajaran-pelajaran sebelumnya, anak itu tampak penuh gairah. Ia dengan sigap menyiapkan buku, pensil, dan alat tulis lainnya.

Aku selalu mengamatinya setiap kali waktu itu datang. Baginya, seni adalah tempat ia tidak perlu merasa bagaikan katak di bawah tempurung. Ia sangat mencintai keindahan dan ketelitian.

Pembelajaran pun dimulai, dan suasana kelas menjadi riuh. Aku membawa setumpuk kertas berwarna-warni untuk pelajaran melipat origami.

Aku mulai membuat lipatan demi lipatan yang diamati oleh seluruh peserta didik sambil menjelaskan bahwa kertas harus dilipat dengan rapi agar hasilnya bagus dan sempurna. Kemudian, aku meminta seluruh peserta didik mengikutiku membuat bentuk perahu. Bentuk perahu itu memang tampak sedikit rumit.

Teman-temannya yang biasanya mahir dalam Matematika mulai mengeluh. Mereka merasa seperti menegakkan benang basah, kebingungan melipat kertas dan menentukan sudut lipatan. Ada yang menyerah, ada pula yang kertasnya robek karena dipaksa.

Sementara, anak itu sangat fokus dan tenang, seolah-olah dunia di sekitarnya berhenti berputar. Tangannya yang biasa kaku saat menulis kini menari dengan lincah di atas kertas. Rupanya, kabar baik itu bukan sekadar isapan jempol. Hasil lipatannya tampak sempurna, simetris, dan indah tanpa ada satu pun cacat.

Ketika teman-temannya masih sibuk dengan kertas di tangan mereka, ia sudah berdiri di depan mejaku, tempat aku biasa duduk, lalu berkata, "Bu, saya sudah selesai."

Aku pun terperangah melihat hasil karyanya dan berkata, "Masyaallah, coba Ibu lihat dulu."

Benar saja, lipatannya sangat sempurna dan rapi.

Kemudian aku berkata kepada seluruh kelas, "Anak-anak, lihatlah karya teman kalian ini. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil."

Kelas pun menjadi hening. Mereka yang awalnya menyerah kini mencoba kembali. Mereka mulai bertanya kepadaku tentang cara melipat yang benar untuk memulai dari awal.

Aku tersenyum, menyadari bahwa di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Setiap anak akan selalu menemukan cara untuk bersinar dengan cahayanya sendiri.

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Ollustrator. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget