Khutbah
Idul Adha 2026:
Membangun Generasi Tangguh di Era Modern, Teladan Nabi Ibrahim as.
Ust Dr KH Hasbullah Ahmad, MA
(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap
Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU
Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan
Ponpes PKP al Hidayah Jambi)
DOWNLOAD FILE PDF DISINI!
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ
بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ
عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا
اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ.
وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ
لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ.
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ
الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ،
صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ
عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ
المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيْمْ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ
يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا
اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Adha
Rahimakumullah,
Pada momentum bahagia ini, marilah
kita perkuat takwa dalam sanubari, dan kita aplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Takwa adalah cahaya hati, pelindung diri, penuntun langkah menuju
surga yang abadi. Takwa bisa kita teladani dari momentum Hari Raya Idul Adha
ini. Di mana kita diberikan keteladanan dari keluarga Nabi Ibrahim as yang
senantiasa patuh pada Ilahi. Keteladanan ini sangat berharga bagi kemaslahatan
dan keberkahan keluarga yang sangat kita cintai.
Hari Raya Idul Adha bukan sekadar
penyembelihan hewan kurban semata. Lebih dari itu, ibadah ini adalah simbol
pengorbanan dan ketaatan yang diwariskan dari Nabi Ibrahim as dan keluarga.
Mereka adalah teladan kita yang menjunjung tinggi nilai iman, keikhlasan, dan
kepatuhan kepada Allah swt.
Keteladanan mereka tetap relevan
hingga kini, khususnya saat mendidik putra-putri kita dalam keluarga. Salah
satu Pelajaran dari keluarga Nabi Ibrahim as adalah pentingnya mendidik anak
dengan ketauhidan dan keteladanan yang mulia. Nabi Ibrahim as tidak hanya
mengajarkan tentang Allah swt melalui ucapan kata, tetapi juga melalui
perbuatan nyata.
Nabi Ibrahim as menunjukkan
kesungguhan dalam beribadah. Ia jujur dalam bersikap, teguh dalam menjalani
kehidupan yang penuh tantangan dan tak pernah goyah.
Orang tua masa kini harus menyadari
bahwa anak belajar lebih cepat melalui teladan bukan hanya perkataan dan
perintah. Selain itu, Nabi Ibrahim as juga memberikan ruang kepada putranya,
Nabi Ismail as, untuk menyampaikan pendapatnya dalam peristiwa besar
penyembelihan. Meskipun perintah itu datang dari Allah swt, Nabi Ibrahim as tetap
berdialog dengan anaknya untuk meyakinkan. Hal ini terekam dalam Al-Qur’an:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى
الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ
“Ketika anak itu sampai pada (umur)
ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku,
sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa
pendapatmu?.” (As-Shaffat: 102).
Yang dilakukan Nabi Ibrahim as ini
adalah bentuk penghargaan kepada anak tercinta. Ini adalah contoh baik
komunikasi dua arah dalam keluarga. Ini adalah hal yang sangat penting untuk
ditanamkan dalam kehidupan rumah tangga.
Kisah Nabi Ibrahim as dan istrinya,
Siti Hajar juga mengajarkan tentang keikhlasan dalam menghadapi ujian
kehidupan. Mereka diuji dengan berbagai cobaan berat dengan berbagai tantangan.
Mereka sempat lama tak memiliki
keturunan.
Nabi Ibrahim as harus meninggalkan
keluarga di padang pasir yang gersang tanpa ada tumbuh-tumbuhan. Setelah
memiliki anak, Allah swt malah memerintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail as,
anak yang selama ini diidam-idamkan.
Semua itu mereka jalani dengan penuh
keikhlasan dan keimanan. Dari sini, kita sebagai orang orang tua diajarkan
untuk tetap sabar dan ikhlas dalam memberikan Pendidikan. Bahkan ketika harus
menghadapi perubahan dan arus tantangan zaman.
Takwa diiringin dengan doa dan
tawakal menjadi kekuatan utama. Nabi Ibrahim as tak lelah berhenti berdoa
kepada Allah swt. Dalam QS As-Shaffat ayat 100 tertulis doanya:
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku
(keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”
Hal ini mengajarkan kita bahwa dalam
mendidik putra putri tercinta, kita sebagai orang tua tidak boleh mengandalkan
usaha semata. Tetapi harus terus memanjatkan doa dan bertawakal sepenuhnya
kepada Allah swt.
Siti Hajar sebagai seorang istri pun
memberikan teladan berharga bagi kita. Ia adalah teladan perempuan yang kuat,
sabar, dan penuh keyakinan pada pertolongan Allah swt. Saat ditinggalkan di padang pasir bersama bayi
kecilnya, ia tidak mengeluh dan diam saja. Ketika mengetahui bahwa itu adalah
perintah Allah swt yang maha kuasa, ia yakin bahwa Allah swt tidak akan
menyia-nyiakannya.
Dengan perjuangan yang diabadikan
dalam ibadah Haji yakni Sa’i, berlari-lari dari bukit Shafa dan Marwa, kita
belajar bahwa seorang ibu harus memiliki ketegaran baja dan keyakinan dalam
menjalani peran mendidik anak, meski dalam keadaan sulit yang menerpa.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Adha
Rahimakumullah,
Bagi anak-anak yang merupakan
generasi penerus di masa yang akan datang, kisah perjuangan keluarga Nabi
Ibrahim as ini menyimpan pesan yang penting dan cemerlang. Nabi Ismail as
menunjukkan keteladanan luar biasa dalam hal ketaatan kepada orang tua sebagai
simbol rasa sayang.
Selama perintah itu sejalan dengan
kehendak Allah swt, Nabi ismail as tidak akan pernah menentang. Ketika Nabi
Ibrahim as menyampaikan perintah Allah swt untuk menyembelihnya, Nabi Ismail as
tidak membangkang. Ia justru menunjukkan sikap tunduk dan berkata dengan
terang:
قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ
اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Dia (Ismail) menjawab, “Wahai
ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau
akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (As-Shaffat: 102).
Dengan jawaban tanpa keraguan, Nabi
Ismail as memberikan teladan kepada setiap anak untuk taat kepada orang tua
dalam cinta dan kebaikan. Ketaatan pada orang tua adalah bagian dari bentuk
pengabdian kepada Allah swt yang Maha menentukan. Dan Ingat, kemurkaan orang
tua juga merupakan murka Tuhan. Rasulullah mengingatkan:
رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ
الْوَالِدَيْنِ
“Ridha Allah ada pada ridha kedua
orang tua dan murka Allah ada pada murka kedua orang tua.”
(HR At-Tirmidzi).
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Adha
Rahimakumullah,
Selain ketaatan, Nabi Ismail as juga
memberi teladan dalam hal keberanian dan kesabaran menghadapi ujian. Ia tidak
lari dari takdir, tidak menangis, dan tidak mempertanyakan keputusan Allah swt
yang berat ia rasakan. Ia memahami bahwa semua perintah Allah swt pasti
mengandung hikmah dan pelajaran.
Prinsip ini menjadi modal penting
besar bagi anak-anak yang kini hidup di beda zaman. Para generasi muda tidak
boleh gampang menyerah dan terus menguatkan keyakinan, bahwa setiap ujian dalam
kehidupan adalah sarana untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan tahan pada
cobaan.
Keikhlasan Nabi Ismail as juga
sangat menginspirasi. Ia tidak hanya taat secara lahir, tetapi juga ikhlas
dalam menerima takdir dari dalam hati. Ia memiliki tanggung jawab spiritual
sejak usia dini. Ini menunjukkan bahwa anak-anak juga harus berperan aktif
dalam menjalankan nilai-nilai agama, bahkan tanpa disuruh sama sekali.
Yang tidak kalah penting, Nabi
Ismail as juga menunjukkan bahwa ia memahami perjuangan dan keputusan ayahnya.
Ia tidak menyalahkan Nabi Ibrahim as karena hendak menyembelihnya. Ia tahu
bahwa itu adalah perintah dari Allah swt.
Para generasi muda harus belajar
menghargai jerih payah orang tua yang berjuang demi kebaikan mereka. Meskipun
terkadang keputusan orang tua terasa berat dan tidak sesuai dengan
keinginannya.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Adha
Rahimakumullah,
Kisah keluarga Nabi Ibrahim as, Siti
Hajar, dan Nabi Ismail as adalah bukti nyata bahwa keluarga merupakan madrasah
pertama bagi kita semua. Di sanalah nilai-nilai tauhid, kesabaran, komunikasi,
dan keikhlasan ditanamkan sepenuhnya.
Hubungan antara orang tua dan anak
dalam keluarga tidak hanya dibangun atas dasar kasih sayang, tetapi juga atas
dasar iman dan takwa.
Dengan menjadikan keluarga Nabi
Ibrahim as sebagai teladan, mudah-mudahan kita dapat membangun fondasi keluarga
berlandaskan iman.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Adha
Rahimakumullah,
Idul Adha juga dikenal dengan Hari
Raya Haji, Orang yang berhaji meninggalkan rumahnya.
Meninggalkan keluarganya. Meninggalkan kenyamanan hidupnya. Mengapa?
Karena mereka sadar dunia ini hanya
sementara. Tetapi ironisnya… Banyak dari kita terlalu sibuk mempercantik dunia,
namun lupa memperbaiki bekal menuju akhirat.
Rumah diperbesar, tetapi shalat
sering ditinggalkan. Tabungan diperbanyak, tetapi sedekah terasa berat, haji
enggan tuk ditunaikan. Media sosial dijaga tampilannya, tetapi hati penuh iri
dan dengki. Naudzu billah.
Padahal suatu hari nanti… Kita semua
akan berangkat menuju perjalanan terakhir. Bukan ke Makkah… tetapi ke alam
kubur. Dan saat itu tidak ada lagi kesempatan kembali.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah sekalian,
Hari raya juga mengingatkan kita
bahwa hidup ini sementara. Mungkin tahun lalu ada keluarga yang masih bersama
kita di shaf shalat Id. Hari ini mereka sudah berada di alam kubur.
Mungkin ada ayah yang dulu
menggandeng tangan anaknya ke masjid, kini tinggal nama dan doa, Mungkin ada
ibu yang dulu menyiapkan makanan hari raya, sekarang hanya tinggal kenangan.
Karena itu sebelum terlambat: Peluk
orang tua kita. Maafkan saudara kita. Perbaiki shalat kita.
Dan dekatkan hati kita kepada Allah SWT.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Adha
Rahimakumullah,
Kita sedang sedih dan pilu melihat
kondisi dunia saat ini, Dimana saudara/i kita se iman diuji dengan kejahatan
perang di Palestina dan beberapa negara Muslim lainnya, Mari kita terus
istiqamah mendoakan dan mendukung bangsa Palestina dan negara negara islam yang
tertindas dengan segala upaya yang dapat dilakukan. Semoga bangsa Palestina dan
negara negara islam yang tertindas segera mendapatkan pertolongan dari Allah
swt berupa kemerdekaan dan kebebasan dari serangan penjajah.
Dan semoga Jama’ah Haji senantiasa
mendapatkan berkah, Mabrur dan Maqbul amaliyah hajinya serta membawa keberkahan
bagi bangsa Indonesia dan Negeri Jambi menuju baldatun thayyibatun wa Rabb
al Ghafur. Amin Ya Rabb.
جَعَلَنَا
اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ وَالْمَقْبُولِينَ كُلَّ
عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. آمِينَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ
الرَّحِيمِ، وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا
السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ
وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
Khutbah II
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ
الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ
عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ
خُلُقَهُ الْقُرْآنُ أَمَّا
بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا
اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى
نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ
الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ
سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا
سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً
وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ
وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ
شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللّٰهُمَّ أَدِمِ
السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا،
وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اَللّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّهم
حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلاً
صَالِحًا مَقْبُوْلاً وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ يَاعَالِمَ مَا في
الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْر اللّهُمَّ انْصُرْ
إِخْوَانَنَا فِي فِلِسْطِين وَبِلاَدُ المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ،
وَاحْفَظْهُمْ، وَارْحَمْهُمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَفَرِّجْ كُرُوبَهُمْ،
وَاكْتُبْ لَهُمُ النَّصْرَ وَالْعِزَّةَ وَانْصُرْهُمْ عَلَى
عَدُوِّهِمْ وَعَدُوِّكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا
الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ عِبَادَ اللهِ، إنَّ
اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى
عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ
أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Posting Komentar