By : Nopi Paradila Suardi, S.Pd
Aku pernah menyepelekan nikmat roti, sampai Allah sendiri yang menunjukkan caranya menghargai nikmat sekecil apa pun.
Bagiku, roti ya hanya roti. Rasanya begitu-begitu saja, tidak ada yang spesial.
Sampai suatu hari di bulan puasa, aku pergi mudik menggunakan motor dan berhenti untuk salat Magrib di sebuah masjid. Ternyata, di sana sedang ada pembagian takjil yang berisi roti, susu kotak, dan kurma.
Dalam hati aku berkata, "Sepertinya, susu kotak dan kurma itu sangat enak untuk aku berbuka nanti. kalau rotinya, nanti bisa aku kasih ke orang lain saja."
Aku melihat orang-orang sedang dibagikan takjil. Aku pun ikut mengantre untuk mengambilnya. Namun, aku justru ditolak oleh pengurus masjid.
"Mundur, mundur," katanya kepadaku.
Rasa canggung pun muncul. Sedikit malu, dan sedikit kecewa.
Waktu berbuka pun tiba. Aku hanya berbuka dengan air putih. Lalu aku berwudhu dan melaksanakan sholat Magrib di masjid dengan perut yang hanya terisi air putih.
Setelah sholat Magrib, perutku mulai terasa lapar. Aku melihat orang-orang berlalu-lalang sambil membawa takjil yang dibagikan oleh pengurus masjid. Saat melihat mereka, aku pun bertanya dalam hati, "Kenapa ya tadi aku disuruh mundur? Kenapa orang yang di belakangku justru disuruh maju? Padahal mereka melihat aku belum mendapatkan takjil itu," gumamku.
Tiba-tiba, ada seorang bapak tua lewat dan mengulurkan sebuah roti kepadaku. karena lapar, aku menerima roti itu sambil berkata, "Terima kasih, pak."
Roti yang tadi aku anggap biasa dan kusepelekan, dalam keadaan lapar terasa begitu nikmat.
Saat itu, aku tersentak. Istigfar, dan air mata pun mengalir.
"Ya Allah, selama ini aku meremehkan nikmat sekecil ini. Roti yang aku anggap sepele justru datang menjadi penyelamat di saat aku membutuhkannya," kataku penuh penyesalan.
Dan yang membuatku semakin terdiam, setelah aku menyesal dan beristigfar, datang lagi seorang bapak tua lainnya yang membawakan takjil yang sebelumnya aku minta namun ditolak oleh pengurus masjid.
Bapak tua itu berkata,
"Ini, Nak. Ambil saja punya Bapak. Cucu Bapak tadi sudah dapat takjil juga."
Aku pun menerimanya sambil berkata,
"Terima kasih banyak, Pak. Semoga Bapak selalu sehat dan dimurahkan rezekinya."
Aku benar-benar terharu. Seolah Allah sedang berkata,
"Nikmat-Ku hadir tepat ketika hatimu siap menghargainya."
Sejak hari itu aku belajar, bukan nikmatnya yang kecil, tetapi hatiku yang kurang bersyukur.
Dan terkadang, Allah mendidik dengan cara yang paling lembut, yaitu melalui sebuah roti.
Aku kira roti itu biasa saja, sampai Allah menunjukkan bahwa nikmat sekecil roti pun bisa menjadi pelajaran hidup yang begitu besar.

Posting Komentar